Gresik (beritajatim.com)- Pelukis asal Yogyakarta, Tarman (51), punya cara tersendiri untuk mengekspresikan karya lukisnya melalui aliran realisme. Dia mengambil obyek orang dengan ganggungan jiwa atau ODGJ. Dipilihnya tema tersebut karena selama ini keberadaan ODGJ dianggap sampah kota yang harus dibuang padahal mereka juga punya hak hidup dan dilindungi.
“Dalam kehidupan sosial keberadaan ODGJ dianggap aib oleh keluarganya, dan kita yang waras cenderung mengucilkan mereka. Memasung, serta menelantarkan lalu dimana rasa kemanusiaannya,” ujar Tarman kepada beritajatim.com, Selasa (26/10/2021).
Alumni Institut Seni Indonesia (ISI) itu mengatakan, dirinya mencoba menggambarkan kenyataan tersebut dalam sebuah lukisan serta mengajak orang lain supaya punya rasa empati. “Mengangkat tema orang-orang ODGJ intinya bagaimana kita memanusiakan manusia sebagai sesama mahluk Tuhan punya derajat yang sama,” tutur Tarman.
Salah satu karya lukisnya yakni, Suyar sosok ODGJ yang yang kerap kali berjalan-jalan di sekitar kampus ISI/ASRI di Gampingan, Bantul, Yogyakarta. Sekitar tahun 90-an, Suyar sangat dikenal oleh mahasiswa dan seniman. Pasalnya, dengan penampilannya eksentrik berambut gimbal seperti rasta. Mirip seperti gaya seniman waktu itu.
Dalam lukisan ini, lanjut Tarman, dirinya mengangkat orang gila karena menunjukkan sebuah keterasingan menyeluruh dari sistem nilai apapun. Seperti sistem nilai adat dimana banyak orang gila yang dipasung, sistem nilai religi dimana banyak orang gila dikutuk, atau disakralkan.
Berikutnya, sistem nilai ekonomi dimana banyak orang gila dipenjarakan karena dianggap tidak produktif menurut prinsip ekonomi kapitalisme. Sedangkan pada sistem nilai politik dimana orang gila dianggap sebagai anomali dari tata tertib sosial yang dikontrol oleh negara.
[berita-terkait number=”5″ tag=”seni-lukis”]
“Atas dasar itu, saya melihat kegilaan justru karena terasing dapat dijadikan sebagai media yang menelanjangi adanya kekuasaan yang mengendalikan berbagai sistem nilai tersebut. Dalam berbagai sistem nilai itu, berbagai kecenderungan, tindakan dan gagasan individu mendapat ruang untuk berekspresi. Kendati masih dibatasi oleh kebijakan yang digariskan kekuasaan,” pungkasnya.
Karya lukis karya Tarman yang lainnya ‘Selamat Tinggal Lik Setyo’ adalah salah satu dari sekian banyak korban perubahan kota. Mereka tak berdaya untuk melawan keangkuhan kota. Apa yang mereka punya seperti tempat tinggal telah musnah dan diganti dengan gedung-gedung megah yang angkuh.
“Di karya lukis itu Lik Setyo dengan dua cucu digendongnya menjadi orang yang kalah. Dipaksa harus pergi entah kemana bersama nasib dan perasaannya. Patung ‘Selamat Datang Jakarta’ seolah melambaikan tangan mengantarkan kepergiannya sore itu. Puing-puing reruntuhan dan pesan untuk temannya menjadi saksi bisu di kota yang menjadi impian banyak manusia,” imbuh Tarman. [dny/suf]






