Surabaya (beritajatim.com) – Ekonom Universitas Airlangga (Unair) Prof Rossanto Dwi Handoyo membeberkan tantangan bagi para investor di Ibu Kota Negara (IKN) baru di Kalimantan Timur.
Menurutnya, minat investor pada IKN sudah cukup besar, terbukti dengan banyaknya letter of intent yang diterima. Namun, masalah lokasi dan kesiapan infrastruktur, seperti listrik dan air masih menjadi tantangan utama.
“Meskipun pemerintah telah memberikan jaminan hak guna lahan yang panjang hingga 190 tahun, kesiapan lokasi dan infrastruktur tetap menjadi perhatian,” kata Prof Rossanto, Selasa (23/7/2024).
Komitmen pemerintah masa depan juga menjadi pertimbangan penting bagi investor. “Komitmen dari pemerintahan saat ini terlihat kuat, tetapi bagaimana dengan pemerintahan yang akan datang? Ini yang masih menjadi pertanyaan,” katanya.
Investasi menjadi elemen krusial dalam pertumbuhan ekonomi, termasuk proyek IKN ini. Minat investor pada proyek ini terbilang krusial dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Prof Rossanto meyebut bahwa setiap investor memiliki motif utama untuk mencari keuntungan jangka panjang. “Investasi di IKN adalah investasi fisik yang berorientasi jangka panjang, berbeda dengan investasi surat berharga, seperti saham atau obligasi,” jelasnya.
Menurutnya, banyak faktor yang harus diperhitungkan oleh investor sebelum memutuskan menanamkan modal di proyek sebesar IKN. Faktor non-ekonomi seperti political will dari pemerintah juga sangat mempengaruhi.
Mesk regulasi terkait IKN sudah jelas, namun keseriusan pemerintah dalam melakukan transformasi dan migrasi ibu kota dari Jakarta ke IKN menjadi penentu utama. “Political will pemerintah terlihat dari antusiasme dalam menggerakkan infrastruktur dan ASN ke IKN,” tambahnya.
Prof Rossanto pun menyoroti pentingnya perpindahan tidak hanya ASN, tetapi juga masyarakat umum. Jika hanya ASN yang pindah, peluang bisnis di IKN akan terbatas. Namun, jika masyarakat umum juga ikut pindah, ini akan membuka banyak kesempatan bisnis baru.
“Jika yang pindah hanya ASN dan keluarganya, tentu kesempatan bisnisnya terbatas. Tapi jika masyarakat luas ikut pindah, maka peluang bisnis akan semakin besar,” ujar Ketua Departemen Ilmu Ekonomi Unair itu.
Prof Rossanto juga menegaskan bahwa meskipun keuntungan bisnis adalah faktor utama, mengubah hutan belantara menjadi kota modern dan ramah lingkungan merupakan tantangan besar.
“Ini adalah proyek jangka panjang, bukan hanya 1 atau 2 tahun, tetapi bisa mencapai 50 hingga 100 tahun,” tandas Guru Besar Unair Bidang Ilmu Ekonomi Internasional tersebut. [ipl/suf]






