Jombang (beritajatim.com) – Kenaikan harga telur di pasaran membuat pengusaha kue yang ada di Jombang pusing tujuh keliling. Akibat kenaikan itu, omzet mereka mengalami penurunan. Pengusaha juga harus memutar otak agar tetap bisa berproduksi.
Salah satu produsen kue adalah Muslimin (45), warga Dusun Mojodadi, Desa Plemahan, Kecamatan Sumobito, Jombang. Muslimin terpaksa membeli putih telur di penjual STMJ (susu telur madu jahe) guna menyiasari harga telur yang meroket.
Setiap pagi, Muslimin sudah berada di dapur rumahnya yang luas. Bahan untuk membuat kue bolu pisang disiapkan. Muslimin mengupas satu per satu buah pisang yang ada di hadapannya. Dia kemudian menghaluskan buah tersebut.
BACA JUGA:
Peternak Blitar Ungkap Penyebab Melonjaknya Harga Telur
Tak jauh dari Muslimin juga ada tepung terigu, gula pasir, serta telur yang diletakan dalam wadah khusus. Nah, bahan-bahan tersebut kemudian dicampur menjadi satu. Muslimin menggunakan alat eletronik untuk mengaduk adonan tersebut. Telur, tepung, gula pasir, pisang halus, serta minyak goreng diaduk menjadi satu.
Terakhir, adonan yang sudah jadi tersebut dimasukkan ke dalam loyang untuk dipanaskan menggunakan api. Kue bolu yang warnanya menguning pertanda sudah matang. Muslimin kemudian mengangkat loyang tersebut dari atas kompor. Dibiarkan dingin agar mudah diiris sesuai ukuran.
“Yang bagian mengiris istri saya. Buat kue bolu pagi, sorenya diiris-iris sesuai ukuran. Lalu diambil oleh sejumlah pedagang pasar. Tapi sejak satu minggu terakhir ini omzet kami turun,” kata Muslimin ketika ditemuai di sela pembuatan kue bolu, Rabu (24/5/2023).

Menurut Muslimin, turunnya omzet itu karena melonjaknya harga telur akhir-akhir ini. Di pasaran harga telur sudah tembus Rp 30 ribu. Padahal sebelumnya hanya kisaran Rp 22 ribu, lalu Rp 25 ribu, dan terakhir menyentuh angka Rp 30 ribu.
Tentu saja, kenaikan harga telur tersebut berdampak pada usaha yang digeluti Muslimin. Karena kue bolu pisang tersebut salah satu bahan bakunya adalah telur. Namun demikian, Muslimin tidak mengurangi ukuran kue. Karena takut tidak laku.
Menurut Muslimin, yang bisa ia lakukan adalah mengurangi telur untuk memproduksi kue. Sebagai gantinya, Muslimin membeli putihnya telur di tukang jamu STMJ. Selain itu, Muslimin juga menaikkan harga kue, meski tak banyak.
“Putih telur harganya antara Rp 10 hingga Rp 12 ribu per kilogram. Tapi carinya sulit. Karena belinya di tukang STMJ. Hal itulah untuk menyiasati kenaikan harga telur. Karena kalau ukuran kue diperkecil, takutnya tidak laku,” ujar warga Dusun Mojodadi ini.
BACA JUGA:
Ini Penyebab Naiknya Harga Telur di Magetan
Soal harga, lanjut Muslimin, sebelum naiknya harga telur, kue bolu pisang dijual Rp 30 ribu per loyang. Namun semenjak harga telur naik, dirinya juga menyesuaikan. “Kalau sekarang Rp 31 ribu per loyang. Jadi naik seribu rupiah,” ujarnya.
Dalam sehari Muslimin membutuhkan bahan baku telur antara 5 hingga 10 kilogram. Dari produksi itu, dalam satu bulan omzetnya mencapai Rp 5 juta. Muslimin mengatakan, dirinya sudah lima tahun menggeluti usaha pembuatan roti. Namun baru kali ini terpukul dengan kenaikan harga telur.
“Omzet rata-rata per bulan Rp 5 juta. Namun semenjak adanya kenaikan harga telur, omzet tersebut turun hingga 25 persen. Kami berharap pemerinta bisa mengendalikan kenaikan harga telur. Sehingga pengusaha kecil seperti saya bisa terbantu,” pungkas Muslimin. [suf]






