Malang (beritajatim.com) – Hananta Wiratama, berupaya mengembangkan sistem bisnis berbasis Islamic value sesuai dengan ilmu yang dipelajarinya saat kuliah, yakni berhubungan dengan keuangan.
“Saat itu, skripsi (tugas akhir) saya tentang islamic finance. Kemudian, saya banyak mempelajari fatwa-fatwa. Sehingga, saya tertarik untuk membangun usaha sendiri, dibandingkan kerja di korporasi yang cenderung sulit menerapkan hal itu dan tidak sesuai dengan value yang saya yakini,” terang lulusan Universitas Islam Indonesia ini.
Setelah lulus kuliah, pria yang akrab disapa Wira ini kemudian mengumpulkan modal awal sekitar Rp 500 ribu untuk berjualan.
“Dulu, saya coba jualan susu di CFD, kemudian ikut event mahasiswa yang ada di salah satu kampus. Awalnya, memang dapat untung hanya sedikit. Tapi coba terus saya tekuni,” jelas pria berusia 29 tahun ini.

Kemudian, Wira mulai mencoba berbagai pola yang bisa memajukan bisnisnya. Ia mencoba merambah ke retail modern.
“Kami mencoba untuk menitipkan produk ke beberapa minimarket. Hasilnya lumayan dan ada peningkatan dari sebelumnya,” kata pria kelahiran 1994 ini.
Setelah itu, Wira merasakan jatuh bangun. Ia terpaksa harus mengurungkan niat untuk melanjutkan studi S2. Sebab, ia harus fokus berjualan susu dan membuat upaya mendapatkan pemasukan.
“Pelan tapi pasti, saya memiliki passive income. Hasilnya lumayan. Kemudian, tahun 2020, uang yang saya investasikan hilang dan motor yang menjadi operasional saya juga hilang. Sempat sewa motor, motor yang saya sewa hilang juga. Jadi, posisi kepepet, tidak punya uang dan punya hutang,” ujar dia sambil mengingat.
Baca Juga: Caz Indonesia Jualan Susu FMCG Islami dari Malang Merambah Pasuruan
Saat pandemi itu, ia kemudian mulai mengumpulkan semangat dan memanfaatkan berbagai momentum. Ia mendaftar program Kementerian Koperasi dan UKM serta Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
“Kami berusaha untuk bertahan dan mengikuti berbagai program dan mengumpulkan berkas-berkas untuk administrasi. Akhirnya, kami lolos program Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif,” imbuh dia penuh syukur.
Akhirnya, ia kembali mendapat modal dan kembali menjalankan bisnisnya mulai dari nol. Kemudian, mempelajari pola penjualan. Apalagi, saat pandemi, banyak supplier yang tidak mengirim barang. Disitulah, ia memanfaatkan momentum.
“Pelan-pelan, kami menambah titik toko baru dan memanfaatkan WhatsApp (WA) bisnis untuk berjualan. Disini, sudah mulai ada titik terang dan mengubah peta kehidupan,” sambung dia.
[berita-terkait number=”3″ tag=”showup”]
Untuk itu, ia berpesan kepada anak muda agar mampu bertahan dan tak mudah menyerah. Dengan adanya perkembangan teknologi, memang lebih mempermudah pekerjaan. Namun, tak semua bisa didapatkan secara instan.
“Hidup tidak semudah itu, semua butuh proses. Masing-masing individu harus memahami kemana arah goals-nya. Jika sudah memutuskan sesuatu, harus komitmen dengan penuh tanggung jawab hingga ke garis finish,” lanjut dia.
Tak hanya itu, lanjut dia, anak muda harus bisa menangkap peluang dan koneksi baru. Sehingga, soft skill sangat dibutuhkan pada bagian ini.
“Kerja keras, integritas dan pantang menyerah. Ini yang harus dimiliki oleh anak muda. Ikhlas dalam bekerja dan mampu mensyukuri segala proses yang dijalani. Sehingga, apa yang dihasilkan bisa maksimal,” tandas dia. (ted)
=============
Konten Kerjasama beritajatim.com dengan Ngalup Collaborative Network
Ngalup Coworking Space yang saat ini bertransformasi menjadi Ngalup Collaborative Network, adalah wadah bagi para talent, stakeholders, dan berbagai lini bisnis untuk kolaborasi dan berjejaring. Kami menyadari kebutuhan akan perubahan dan tantangan zaman yang semakin berkembang, menjadikan Ngalup tidak hanya sebagai tempat melainkan fasilitator.






