Ponorogo (beritajatim.com) – Seorang emak-emak mengungkapkan uneg-unegnya saat ikut hearing dengan Komisi B DPRD Ponorogo terkait sulitnya mendapatkan gas elpiji 3 kilogram beberapa hari lalu. Emak-emak yang bernama Titik Palupi mengungkapkan kegeregetannya saat menanak nasi tak kunjung matang karena kompos gasnya kehabisan gas elpiji.
Akhirnya, nasi itu tidak matang, sebab sudah mencari di pangkalan yang terdekat di rumahnya, namun nihil ditemukan gas elpiji 3 kilogram. “Kenyataan kejadian ini terjadi 2 hari lalu, saya masak nasi, namun baru 10 menit memasak, kompos gas itu mati karena kehabisan gas elpiji. Karena tidak punya gas, akhirnya tidak matang nasinya,” ungkap Emak-emak dari Perumda Kelurahan Keniten Ponorogo, Senin (31/07/2023).
Titik mengaku punya 2 tabung gas elpiji 3 kilogram. Namun, keduanya saat itu habis semua isinya. Saat itu, Ia berusaha beli di pangkalan yang tidak jauh daru rumahnya. Dia pulang dengan tangan hampa, di pangkalan Titik mendapati tidak ada gas elpiji. Pemilik pangkalan mengaku tidak ada pasokan sejak 7-10 hari sebelumnya.
“Saya tanya, kenapa kosong. Katanya memang dibatasi dan belum datang,” ungkap Tutip sembari bilang bahwa dirinya juga sudah setor fotocopy KTP dan KK ke pangkalan tersebut.
Titik akhirnya mendapatkan gas elpiji Minggu (30/07) kemarin, itupun harganya belinya naik hingga dirinya menebus dengan harga Rp 23 ribu. Ia mengaku terpaksa membelinya, karena memang membutuhkannya. Dia bertanya-tanya, seolah gas ini dibatasi dan apa masalah yang melatarbelakanginya. “Kita sebenarnya nurut saja regulasi yang ada, tetapi harapannya ada kejelasan, kenapa kok sulit sekali mendapatkan gas elpiji,” pungkasnya.
Sementara itu Wakil Komisi B DPRD Ponorogo, Ribut Riyanto melakukan hearing sebagai tindak lanjut atas permasalahan terkait gas elpiji yang sulit didapatkan pada 2 minggu terakhir ini. Diskusi dalam hearing itu dilakukan bersama elemen yang mempunyai kepentingan dan pihak yang merasakan dampak dari sulitnya mendapatkan gas elpiji tersebut. “Permasalahan gas elpiji 3 kilogram ini, cukup menjadi atau menyita perhatian publik di Ponorogo,” kata kata politisi dari PKS itu.
Dari hearing yang dilakukan komisi B tersebut, yang juga dihadiri dari Pertamina, Perdagkum, Bagian Perekonomian, Hiswanamigas, Agen, Pangkalan dan pelaku UMKM serta beberapa emak-emak yang terdampak dari kesulitan mendapatkan gas elpiji tersebut. Ada 2 kesimpulan dari hearing yang digelar di ruang sidang DPRS Ponorogo tersebut.
Pertama, adanya penambahan gas elpiji dari Pertamina sebanyak 32 ribu tabung untuk mengatasi gejolak beberapa hari terakhir. Kedua, pihak legislatif akan melakukan observasi. Apakah setelah adanya kuota tambahan ini, masih ada masyarakat yang kesulitan untuk mendapatkan gas elpiji.
“Kita akan edukasi dan sosialisasikan kepada masyarakat, terkait siapa yang boleh pakai atau yang tidak boleh memakai gas elpiji 3 kilogram. Sebab, dalam temuan sidak beberapa hari lalu, masih ada penyelewengan pemakaian gas itu. Harusnya tidak memakai gas subsidi, malah memakai gas tersebut,” pungkasnya. (end/kun)
BACA JUGA:
Selain Siswa, Sekolah di Ponorogo Juga Kekurangan Guru






