Jombang (beritajatim.com) – Matahari mulai tergelincir ke arah barat ketika Muakid (55) dan sang istri, Nafsiah (49), sibuk beraktivitas di lahan pertanian miliknya, Senin (28/6/2021). Pasangan suami istri (pasutri) ini dibantu oleh dua anaknya, Rohman dan Heri.
Keluarga asal Desa Gedangan, Kecamatan Sumobito, Jombang, Jawa Timur, ini sedang cemas. Mereka menyelamatkan semangka siap panen yang ditenggelamkan banjir. Muakid duduk di pematang, sedangkan Nafsiah turun ke sawah. Genangan air di lahan tersebut tingginya di atas mata kaki. Air yang menggenang menutup hamparan tanaman buah tersebut.
Nafsiah berjalan lambat-lambat. Sesekali dia menunduk, memetik semangka yang mengapung di atas air. Buah-buahan itu kemudian digendongnya, lalu dibawa ke tepian. Sekitar jarak 1 meter, wanita yang membebat kepalanya dengan kerudung warna merah ini melemparkan semangka dari gendongannya itu ke arah sang suami.
Muakid yang duduk di atas pematang langsung sigap. Dia menangkap dengan tepat lemparan buah dari sang istri. Sangat tangkas. Buah-buah itu kemudian ditata sedemikian rupa di pingir pematang tepi jalan. Hal itu dilakukan berulang-ulang. Seiring dengan itu, desau angin terdengar lirih. Namun hembusannya tak mampu mengusir keringat yang menggarisi wajah Muakid.
Ketika capek, Muakid berhentik sejenak. Menuang kopi dari botol bening ke dalam gelas. Lalu menyesapnya hingga tandas. “Kalau tidak dipanen sekarang, semangkanya keburu busuk. Ini karena hujan deras semalam. Lahan semangka kami kebanjiran,” kata Muakid yang merupakan warga Desa Gedangan, Kecamatan Sumobito, ini.
Sementara Muakid istirahat, Rohman dan Heri tak kalah sibuk. Dia menyeret terpal berukuran besar ke tengah sawah. Terpal warna biru bergerak mirip perahu. Dua pemuda itu lantas memetik buah semangka yang permukaannya menyembul di air. Buah-buah tersebut kemudian diletakkan di tengah terpal. Jumlahnya puluhan.
[berita-terkait number=”5″ tag=”petani”]
Ketika sudah penuh, Rohman memegang terpal di bagian depan ujung kiri, sedangkan Heri di ujung kanan. Tanpa di komando, keduanya menyeret terpal yang sarat muatan itu. Lagi-lagi, terpal bergerak lambat-lambat ke arah tepian sawah. Rohman lalu melompat ke atas pematang, Heri yang berada di bawah memungut semangka di atas terpal, lantas melemparkannya ke arah sang kakak.
Begitu seterusnya. Rohman yang mengenakan bandana warna hitam menangkap dengan lincah. Menatanya di pematang hingga membentuk gunungan. Begitu seterusnya. Ketika semangka di atas terpal habis, mereka kembali menyeretnya ke tengah sawah. Mengisinya dengan semangka lain yang baru dipetik. “Masih luas yang belum dipetik. Ini baru dapat satu larik,” kata Heri sambil menunjuk lahan yang dimaksud.
Kesibukan pada sore yang basah itu bukan hanya berlangsung di sawah milik Muakid. Namun hal serupa juga dilakukan petani lainnya. Praktis, area persawahan Desa Gedangan cukup ramai. Di ujung sawah juga nampak dua truk. Beberapa orang nampak memikul keranjang berisi semangka, lalu dinaikkan ke atas truk tersebut.
Gagal Panen, Rp 38 Juta Melayang

Matahari hampir menyentuh garis cakrawala ketika Muakid mulai bercerita tentang semangka yang dipanennya. Buah berair itu tumbuh di lahan seluas satu bahu atau 500 bata (7.140 m2). Muakid mulai menanamnya pada April 2021. Pertimbangannya, mulai April hujan diprediksi jarang turun. Karena semangka merupakan jenis tanaman yang tidak membutuhkan banyak air.
Bulam pertama aman, pemupukan dan perawatan dilakukan secara intens oleh warga Gedangan ini. Bahkan, saat semangka berusia dua bulan, sudah ada tengkulak datang. Menawar, lalu menyerahkan uang panjar sebanyak Rp 2 juta. Muakid bisa tersenyum lega. Jerih payahnya tak sia-sia.
Namun memasuk Juni 2021, hati Muakid mulai gundah. Itu karena musim kemarau datang terlambat. Justru sebaliknya, hujan masih mengguyur Jombang dan sekitarnya. Hal itu berpengaruh buruk pada tanaman semangka. Pernah suatu kali, Muakid melakukan pemupukan di lahan tersebut. Namun malang, pagi pupuk ditebar, sorenya hujan deras. “Jadinya mubazir. Pupuk yang sudah ditebar, hilang terbawa air,” kata Muakid sembari menghisap rokoknya dalam-dalam.
Memasuki akhir Juni, hujan tak kunjung berhenti. Puncaknya pada Minggu (27/6/2021) malam, hujan jatuh cukup deras dari gendongan langit, mulai pukul 23.00 WIB hingga dini hari. Kilat juga menyambar-nyambar. Hati Muakid pun serasa ambyar. Keesokan harinya, Muakid pergi sawah melihat semangka miliknya.
[berita-terkait number=”5″ tag=”jombang”]
Nah, apa yang menjadi kekhawatiran Muakid menjadi kenyataan. Lahan seluas satu bahu tersebut tergenang air. Buah sebesar kepala balita itu menyembul di atas permukaan air. “Padahal hari ini rencanya kita panen. Karena memang semangka ini sudah diberi uang panjar oleh pembeli. Akhirnya oleh pembelinya, kita diminta memamen, lalu melakukan hitung ulang soal harga,” kata suami dari Nafsiah ini.
Muakid mengungkapkan, semangka tersebut sudah berusia 60 hari alias siap panen. Untuk itu, dari uang panjar Rp 2 juta tersebut kemudian muncul kesepakatan harga. Oleh Muakid tanaman seluas 500 bata itu dilepas dengan harga Rp 38 juta. Hanya saja, kesepakatan harga harga itu sebelum lahan kebanjiran.
“Kalau sudah begini (kebanjiran) tentu beda ceritanya. Bisa-bisa, pembeli rela menghilangkan uang panjar ketimbang mengalami rugi besar. Makanya, tadi kita akan melakukan negosiasi ulang soal harga. Entah berapa harganya. Tengkulak juga tidak mau rugi,” ungkapnya.

Muakid hanya bisa memastikan bahwa dirinya mengalami gagal panen dan rugi besar. Betapa tidak, lahan seluas 500 bata itu hasil sewa dengan harga Rp 6 juta per tahun. Kemudian ditambah modal tanam dan perawatan yang mencapai Rp 7,5 juta. Belum termasuk tenaga Muakid sendiri yang tidak dihitung.
“Dengan kondisi panen sekarang seperti ini, tengkulak tidak mungkin berani membayar Rp 38 juta. Namun yang penting kita panen dulu, ketimbang semangka menjadi busuk. Soal uang panjar dan harga semangka setelah banjir akan kita omongkan lagi dengan tengkulak. Biar sama-sama enak,” pungkasnya. [suf]






