Surabaya (beritajatim.com) – Dua anak perusahaan Pertamina, Pertamina EP Cepu Field dan Pertamina EP Sukowati Field, bersaing adu gengsi dalam Jatim PR Award 2022 yang diselenggarakan Beritajatim.con, Pilar.id, Portal Communications yang berkolaborasi dengan Perhumas (Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia) Surabaya, sebuah organisasi profesi praktisi humas dan komunikasi Indonesia.
Dua perusahaan itu adalah nominator kategori Corporate. Perwakilan tim humas mereka melakukan presentasi di hadapan empat orang juri via daring, Jumat (25/3/2022), yang terdiri atas Ketua Perhumas Surabaya Suko Widodo, Pemimpin Redaksi Beritajatim.com Dwi Eko Lokononto, Dewan Penasihat Badan Pengurus Pusat Perhumas Heri Rakhmadi, dan Usman Kansong, Direktorat Jenderal Infomasi dan Komunikasi Publik.
[berita-terkait number=”5″ tag=”PR-Jatim-Award”]
Ratih Sekar dari Pertamina EP Sukowati Field memaparkan Program Batik Kembang Sambiloto, yang dikembangkan di Desa Sambiroto, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro. “Kami bermaksud memperkaya motif batik khas bojonegoro. Kami menyasar kelompok Desa Sambiroto. Awalnya mereka sudah punya program batrik kembang Sambiloto. Ada satu dan lain hal di lapangan yang menyebabkan mereka vakum. Namun kami melihat potensi, sehingga pada 2020 kami melakukan pengembangan kelembagaan,” katanya.
“Key messages-nya adalah peningkatan peran dan status perempuan dalam sistem sosial serta membantu penguatan perekonomian keluarga di tengah Pandemi Covid-19 untuk mendukung Kabupaten Bojonegoro sebagai sumber ekonomi kerakyatan,” kata Ratih
Program ini berangkat dari fakta bahwa pendapatan keluarga di Desa Sambiroto relatif rendah yakni di bawah Rp 1,5 juta per bulan. Padahal desa ini memiliki potensi pariwisata dan budaya yang dapat dikembangkan melalui motif batik. Potensi pasar batik cukup luas, khususnya di Kabupaten Bojonegoro, karena setiap minggu pegawai dan siswa di lingkungan Bojonegoro wajib memakai batik.
Program ini diprakarsai pada 2020 dan diharapkan pada 2024 kelompok menjadi mandiri dan percontohan. Itulah kenapa Ratih menekankan pentingnya taktik dan strategi komunikasi dalam program ini, yakni memanfaatkan pemetaan sosial sebagai basis penentu strategi, berkolaborasi dengan berbagai stakeholder, memperkuat modal sosial kelompok, dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia. “Selain itu, dilakukan pendampingan secara berkala, dukungan pemasaran, dan memperhatikan aspek lingkungan,” katanya.
“Kami melakukan aduiensi non formal ke kepala desa. Kepala desa menyambut baik. Lalu kami lakukan sosialisasi ke balai desa dan realisasi program. Kami sekalu mengundang media untuk diseminasi publikasinya sekaligus beri expossure program ini, Harapannya program ini dikenal,” kata Ratih.
Sementara itu, Widya dari Tim Humas Pertamina EP Cepu Field menampilkan program Pertanian Sehat Ramah Lingkungan dan Berkelanjutan (PSRLB) yang dilaksanakan sejak 2019 di Desa Bajo, Kabupaten Blora, Jawa Tengah.
Program ini dilatarbelakangi menurunnya produktivitas petani karena penurunan kualitas tanah yang diakibatkan penggunaan pupuk kimia dalam jangka waktu lama. “Lahan pertanian 1,23 hektare tidak tergarap maksimal akibat penurunan kualitas tanah dan ketidaktersedian air di musim kemarau,” kata Widya.
Persentase penduduk bekerja di sektor pertanian Desa Bajo 28 persen. Kesulitan yang mereka alami makin pelik, karena tingginya biaya pembelian pupuk kimia dibanding dengan pupuk organik.Petani Bajo masih menggunakan sistem konvesional sehingga hasil pertanian cenderung menurun.
Melalui program ini, PT Pertamina EP Cepu Field ingin meningkatkan kualitas tanah dengan mengganti penggunaan pupuk kimia ke pupuk organik dan menjadikan Desa Bajo sebagai desa role model untuk pertanian organik di Kabuten Blora.
“Kami ingin meningkatkan kesejahteraan masyarakat melaui produk olahan dan pertanian organik, meningkatkan sinergi perusahaan dengan mayarakat dan pemangku kepentingan, dan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk lebih peduli dengan lingkungan,” kata Widya.
Tentu saja itu tak mudah. “Asessment pertama dilakukan bersama 60 orang. Kami lakukan presentasi minat. Awal-awal dari 60 orang turun jadi 36 orang yang hadir dalam meeting persiapan kedua. Mereka ini konsisten sampai sekarang,” kata Widya.
Saat ini program pertanian itu dijalankan di lima desa yang berada di lingkar pertama daerah operasi Pertamina EP Sukowati. Saat ini di setiap desa ada 40 orang petani yang berpartisipasi.
Indikator keberhasilan program itu adalah meningkatnya jumlah anggota yang beralih dari pupuk kimia ke pupuk organik, bertambahnya jumlah area lahan pertanian yang menerapkan sistem pertanian ramah lingkungan dan berkelanjutan, bertambahnya hasil panen, kembalinya kualitas tanah, dan terbentuknya kelompok masyarakat sebagai penggerak program pertanian ramah lingkungan dan berkelanjutan. [wir/kun]







