Surabaya (beritajatim.com) — Larangan parkir di tepi jalan umum (TJU) Tunjungan menuai keluhan keras dari pemilik kafe dan restoran. Omset mereka disebut anjlok hingga 50 persen sejak aturan ini berlaku pada 15 Juli 2025.
Sebagai bentuk protes damai, para pengusaha memasang berbagai poster di jendela kafe dan restoran mereka. Poster-poster ini memuat tulisan seperti “Save Tunjungan” dan “Satu Tujuan Satu Tunjungan” untuk menyuarakan aspirasi mereka.
Anggota Komisi C DPRD Surabaya, Achmad Nurdjayanto, meminta Pemkot segera turun tangan menanggapi jeritan para pengusaha. Dia menilai kebijakan larangan parkir ini perlu dievaluasi agar tidak mematikan usaha di kawasan ikonik tersebut.
“Memang perlu dilakukan observasi lebih detail, apakah penurunan omset itu murni karena larangan parkir TJU atau ada faktor lain. Sebab saat ini juga berbarengan dengan peresmian beberapa destinasi baru di Surabaya,” kata Achmad, Selasa (19/8/2025).
Menurutnya, salah satu masalah di lapangan adalah kurangnya penanda arah lokasi parkir resmi di sekitar Tunjungan. Hal ini membuat pengunjung bingung, malas berputar-putar, dan akhirnya memilih tidak jadi singgah.
“Parkir mobil yang kurang petunjuk tandanya membuat orang bingung cari tempat. Kalau motor bisa ke Tanjung Anom karena kapasitasnya besar, tapi untuk mobil masih terbatas,” jelasnya.
Achmad menambahkan, beberapa titik lain sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk parkir, seperti Siola dan halaman kantor BPN. Namun, dia menegaskan Dishub harus lebih jelas dalam memberikan informasi dan pengaturan titik parkir.
“Kalau Dishub bisa kasih penjelasan dan petunjuk yang detail, pengunjung tidak akan kesulitan. Dengan begitu, dampak larangan parkir di TJU bisa diminimalisir,” ujarnya.
Selain soal parkir, Achmad juga mendorong Pemkot lebih kreatif menghidupkan kembali Tunjungan. Dia menilai kawasan ini butuh tambahan agenda rutin yang bisa menarik orang datang, bukan hanya bergantung pada daya tarik kafe dan resto.
“Event musik memang sudah ada, tapi ke depan perlu dikembangkan juga seperti event E-Sport di sepanjang Tunjungan. Dengan cara ini, kawasan bisa tetap ramai meski aturan parkir diberlakukan,” kata dia.
Politisi asal Golkar ini menegaskan, Tunjungan sebagai ikon Surabaya tidak boleh kehilangan denyutnya. Dia meminta Pemkot hadir dengan solusi konkret agar kafe, resto, dan UMKM di sana bisa bertahan sekaligus mendukung wajah kota.
“Kami di DPRD akan mendorong Pemkot untuk segera evaluasi. Jangan sampai kebijakan yang niatnya baik justru membuat pengusaha di Tunjungan ambruk,” pungkasnya. [asg/aje]







1 Komentar
pengguna jalan tunjungan berharap tidak macet…