Bojonegoro (beritajatim.com) — Komisi B DPRD Bojonegoro meminta pemerintah segera turun tangan menstabilkan harga gabah di tingkat petani saat musim panen raya. Dalam situasi panen raya, sejumlah wilayah harga gabah petani masih di bawah Harga Pembelian Pemerintah (HPP).
Sekretaris Komisi B DPRD Bojonegoro, Sigit Kushariyanto, mengatakan negara harus hadir melindungi petani saat harga gabah mulai tidak stabil di masa panen. Salah satu langkah yang dinilai paling efektif adalah mendorong Bulog melakukan pembelian langsung dari petani sesuai HPP.
“Harapan kami pemerintah, dalam hal ini Bulog, segera melakukan pembelian gabah sesuai HPP dan membeli langsung dari petani. Kalau membeli dari tengkulak, pasti petani yang kalah,” kata politisi Partai Golkar tersebut.
Menurut Sigit, pembelian langsung oleh Bulog akan membantu menjaga harga gabah tetap stabil di tingkat petani. Ia juga mendorong Bulog menjalankan kewajibannya untuk menyerap gabah secara besar-besaran saat musim panen.
Langkah tersebut dinilai penting untuk mengendalikan harga agar tidak terus merosot di pasaran. “Bulog memang memiliki fungsi untuk menstabilkan harga. Caranya ya dengan segera membeli gabah dari petani,” ujarnya.
Sigit menilai turunnya harga gabah saat ini tidak memiliki alasan yang jelas. Apalagi kondisi cuaca di Bojonegoro relatif baik sehingga seharusnya tidak ada faktor yang menyebabkan harga anjlok. Ia menduga penurunan harga ini terjadi karena mekanisme pasar yang dimainkan oleh para pedagang atau tengkulak.
“Biasanya di awal panen mereka membeli dengan harga tinggi sesuai HPP. Tapi di pertengahan atau akhir panen, harga tiba-tiba diturunkan tanpa alasan. Ini strategi pedagang yang akhirnya merugikan petani,” jelasnya.
Karena itu, Komisi B DPRD Bojonegoro juga meminta Satgas Pangan Kabupaten Bojonegoro segera melakukan pemantauan di lapangan untuk memastikan harga gabah tetap sesuai ketentuan pemerintah. Yakni, sesuai Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2025 yang menetapkan harga pembelian Gabah Kering Panen (GKP) sebesar Rp6.500 per kilogram di tingkat petani
“Kami berharap Satgas Pangan turun melakukan pengawasan agar petani merasa aman dan nyaman,” tegasnya.
Sigit menambahkan, kondisi harga gabah yang berbeda-beda antar wilayah juga menjadi perhatian. Ia menilai ketimpangan harga tersebut tidak seharusnya terjadi karena petani membutuhkan kepastian harga saat panen. “Kasihan petani. Di satu daerah harganya tinggi, di daerah lain justru rendah. Seharusnya bisa stabil di HPP,” ujarnya.
Selain itu, jika penurunan harga dikaitkan dengan penggunaan mesin panen atau kombain, ia meminta Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bojonegoro segera melakukan intervensi. Salah satunya dengan memfasilitasi peminjaman mesin kombain bagi kelompok tani maupun gabungan kelompok tani (gapoktan) di wilayah yang sedang memasuki masa panen.
“Kalau memang karena faktor alat panen, DKPP bisa membantu dengan meminjamkan kombain melalui kelompok tani atau gapoktan agar proses panen tetap lancar dan tidak menekan harga gabah petani,” pungkasnya.
Terpisah, Kepala Perum Bulog Kantor Cabang Bojonegoro, Umar Said, menyampaikan bahwa pihaknya membuka peluang seluas-luasnya bagi petani untuk menjual gabah kepada Bulog. Tidak hanya petani perorangan, kesempatan ini juga terbuka bagi kelompok tani (poktan) maupun gabungan kelompok tani (gapoktan).
Menurutnya, langkah tersebut merupakan bagian dari komitmen Bulog untuk memastikan hasil panen petani dapat terserap dengan baik sekaligus menjaga kestabilan harga gabah di tingkat produsen. Penyerapan gabah dilakukan sesuai HPP senilai Rp6.500 per kilogram di tingkat petani sebagaimana amanat Inpres Nomor 6 Tahun 2025.
“Bulog berkomitmen hadir untuk petani,” kata Umar Said, Rabu (11/3/2026).
Untuk mempermudah proses penjualan gabah, petani diimbau melakukan koordinasi dengan aparat pendamping di wilayah masing-masing. Pendamping tersebut antara lain Babinsa dari TNI maupun Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL). Selain itu, petani juga dapat menghubungi layanan call center Bulog untuk memperoleh informasi mengenai mekanisme penjualan. [lus/aje]






