Surabaya (beritajatim.com) – Dosen Analisis Kesehatan Unusa, Yauwan Tobing Lukiyono menilai praktik penggunaan obat yang tidak bijak masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Menurutnya, masyarakat sering mengabaikan informasi obat yang tercantum pada kemasan obat.
Ia menyebut, padahal penggunaan obat tanpa informasi yang memadai bisa menimbulkan masalah kesehatan baru, seperti overdosis, kejadian efek samping maupun interaksi obat atau penyalahgunaan obat.
Tobing mencontohkan, hingga saat ini masyarakat seringkali salah mengartikan resep dokter untuk minum obat 3×1 hari. Seharusnya, setiap 8 jam mulai konsumsi obat lagi, bukan malah setelah selesai makan.
“Sehingga kinerja atau efektivitas obat tidak berjalan bagus, karena reaksinya menjadi tertumpuk yang mengakibatkan ketika orang tersebut sakit kembali, maka membutuhkan dosis yang lebih besar karena efek kesalahan konsumsi obat,” ujar Tobing, Jumat (24/2/2023).
[berita-terkait number=”5″ tag=”unusa”]
Tak hanya itu, menurutnya masyarakat juga harus memahami perbedaan antara drug medicine dan herbal medicine. Ia menjelaskan, drug medicine kinerjanya menuju ke pusat sakit, sedangkan herbal medicine bisa berfungsi lebih banyak dibandingkan drug medicine. “Dan dapat digunakan untuk terapi beberapa penyakit sekaligus baik yang bersifat penyakit menular maupun penyakit tidak menular di samping itu,” jelasnya.
Kendati demikian, Tobing menyebut bahwa penggunaan herbal medicine yang tidak tepat juga bisa memberikan dampak negatif ke tubuh. Namun lebih minim dibandingkan drug medicine.
Drug medicine, lanjut dia, pemakaiannya harus terkontrol dan terinci oleh ahlinya. Sedangkan untuk herbal medicine dapat digunakan setiap saat tanpa harus diawasi oleh ahli gizi, asalkan penggunaanya bijak. “Tetapi jika ingin stagnan dan aman untuk merawat kesehatan, lebih baik menggunakan herbal medicine, karena dengan 1 bahan saja bisa digunakan untuk beberapa terapi kesehatan,” sarannya.
Sementara itu Ketua DWP LLDIKTI Wilayah VII, dr Tri Asih Imroati Ivan berharap melalui edukasi ini anggota DWP dapat memahami berbagai jenis penyakit serta kandungan pada obat-obatan, baik kimia maupun obat herbal sehingga pengobatan yang dilakukan tepat dan sesuai. “Saya berpesan kepada anggota untuk senantiasa berpartisipasi aktif, karena banyak manfaat yang bisa didapatkan dari setiap kegiatan yang diselenggarakan oleh DWP LLDIKTI Wilayah VII,” tandasnya. [ipl/kun]






