Surabaya (beritajatim.com) – Dosen Rekayasa Nanoteknologi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Tahta Amrillah menyoroti rencana China meluncurkan baterai nuklir BV100 yang tahan hingga 50 tahun.
Tahta menjelaskan terkait pentingnya efisiensi material dalam produksi baterai. Menurutnya, untuk menciptakan perbedaan potensial yang signifikan antara anoda dan katoda, diperlukan efisiensi material yang optimal.
Perbedaan potensial menjadi kunci dalam menghasilkan daya listrik. Tahta menyebut, nuklir sebagai material dengan mobilitas elektron luar biasa, memiliki potensi besar menghasilkan daya listrik berkualitas tinggi.
“Ketika material nuklir digunakan dalam baterai, material tersebut akan mengalami perubahan deplecion yang besar. Ini menyebabkan material nuklir semakin lama untuk habis, sehingga baterai nuklir dapat digunakan lebih lama,” ujar Tahta, ditulis Jumat (2/2/2024).
Namun di balik potensinya yang luar biasa dalam baterai, nuklir juga memiliki bahaya tersembunyi bagi tubuh manusia. Nuklir menghasilkan radiasi berbahaya dengan panjang gelombang gama yang jauh lebih kecil daripada sinar ultraviolet (UV).
Tahta menyebut, dalam fisika, panjang gelombang yang kecil menghasilkan energi besar. Peluruhan material nuklir menghasilkan gelombang dan energi yang sangat besar, sehingga mampu menembus masuk ke dalam sel tubuh. “Namun, bahaya radiasi nuklir dapat teratasi dengan pemanfaatan teknologi shielding. Saat ini terdapat teknologi shielding, yang mampu menyerap gelombang,” kata Tahta.
Ketidakamanan terkait radiasi, menurutnya muncul ketika material ini rusak dan dibuang, sehingga menyebabkan radiasi lepas. Namun, keamanan material nuklir sangat tergantung pada efektivitas shielding.
“Berbagai material seperti besi oksidan mampu menyerap gelombang besar, sementara tembaga mampu menyerap gelombang yang lebih kecil. Secara umum, ada material khusus yang dapat menyerap gelombang sangat kecil, seperti halnya gelombang gama itu,” ucapnya.
Dalam implementasinya, nuklir membutuhkan perlakuan khusus untuk menghindari potensi dampak berbahaya. Menurut Tahta, penting bagi masyarakat, terutama di Indonesia, memiliki pemahaman mendalam terkait teknologi nuklir, mulai dari komponen yang terkandung di dalamnya hingga dampak yang mungkin timbul.
Untuk diketahui, salah satu perusahaan asal China, Betavolt, berencana meluncurkan baterai nuklir yang tahan hingga 50 tahun pada 2025 mendatang. Potensi keberhasilan teknologi itu bisa memberikan dampak besar terhadap industri energi global.
Baterai atom buatan Betavolt tersebut bernama BV100 dengan ukuran 15mm × 15mm × 5mm. Meski berukuran mini, Betavolt mengatakan bahwa baterai ciptaannya memiliki daya sebesar 100 mikrowatt dengan tegangan 3 volt. [ipl/kun]






