Surabaya (beritajatim.com) – Dosen FISIP Universitas Airlangga (Unair), Suko Widodo menilai munculnya aksi pengambilan barang dari minimarket oleh warga terdampak banjir dan longsor di Sumatra karena lemahnya manajemen bencana.
Ia menyebut, dalam kondisi darurat, negara belum sepenuhnya mampu menjamin kebutuhan dasar korban.
Menurut Suko, tindakan warga tersebut tidak tepat jika langsung dilabeli sebagai penjarahan. Ia menekankan bahwa warga mengambil barang hanya untuk bertahan hidup di tengah minimnya akses bantuan.
“Mereka mengambil hanya untuk makan karena situasi darurat, untuk bertahan hidup,” ujarnya dikutip Selasa (9/12/2025).
Ia juga menyoroti cara media membingkai peristiwa tersebut. Suko menilai sebagian pemberitaan belum memahami prinsip jurnalisme kebencanaan yang menuntut empati kepada korban.
“Penyebutan penjarahan menunjukkan framing yang buruk bagi korban, padahal ada alasan rasional di belakangnya,” katanya.
Suko turut mengkritisi pernyataan pejabat yang muncul di media saat kondisi darurat. Ia menilai, dalam situasi bencana, pejabat seharusnya menyampaikan informasi yang bersifat direktif dan berbasis data, bukan pernyataan analisis yang berpotensi memicu kegaduhan.
“Pernyataan harus informatif dan berdasarkan data valid, agar tidak menimbulkan kericuhan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Suko menegaskan bahwa fenomena tersebut merupakan dampak dari pengelolaan bencana yang belum optimal.
Ia menyebut lemahnya mitigasi, manajemen risiko, serta pengawasan terhadap kebijakan lingkungan ikut memperbesar dampak bencana.
“Fenomena ini menunjukkan negara kurang menjamin kehidupan warganya dalam kondisi darurat,” katanya.
Ia menambahkan, pelanggaran terhadap regulasi lingkungan demi kepentingan ekonomi turut memperparah kerusakan alam dan memperbesar risiko bencana.
Menurutnya, penegakan aturan harus dilakukan secara tegas agar kejadian serupa tidak terus berulang.
Suko pun mengajak seluruh pihak untuk memperkuat sinergi dalam penanganan bencana, baik pemerintah maupun masyarakat, agar kebutuhan korban dapat segera terpenuhi dan dampak sosial tidak semakin meluas. [ipl/ted]






