Malang (beritajatim.com) – Tim pengabdian dosen dari Universitas Negeri Malang (UM) berupaya memperluas pemasaran Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) makanan camilan kering di Pamekasan. Tak hanya pemasaran, tim dosen UM juga meningkatkan kapasitas produksi UMKM yang berlokasi di Desa Pademawu Barat.
Ketua tim Dr. Moch. Syahri, S.Sos, M.Si, menjelaskan bahwa pihaknya mengimplementasikan integrated automatic spinner machine. Integrated automatic spinner machine adalah inovasi yang lahir dari penelitian panjang tim peneliti UM.
“Kami merancang mesin ini khusus untuk memenuhi kebutuhan produksi camilan kering yang lebih efisien dan berkualitas. Mesin ini tidak hanya mampu meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga menjaga konsistensi kualitas produk,” ujar Dr. Syahri, Selasa (20/8/2024).
Pihaknya melakukan pelatihan intensif yang dilakukan selama tiga bulan di rumah produksi Makmur Jaya. Pelatihan ini melibatkan 25 peserta yang merupakan perwakilan dari kader PKK dan BUMDes dari Desa Pademawu Barat.
“Kami berhasil membawa inovasi yang tak hanya relevan tetapi juga mampu menjawab kebutuhan riil para pelaku UMKM. Program Pengabdian Kepada Masyarakat ini didanai oleh Dana Internal Universitas Negeri Malang tahun 2024,” ujar Syahri.
Dijelaskan dosen Fakultas Sastra UM ini, Desa Pademawu Barat dikenal sebagai salah satu pusat produksi camilan kering di Pamekasan. Produk seperti keripik, kerupuk, dan aneka makanan ringan lainnya menjadi andalan utama bagi perekonomian lokal.
“Namun, meski memiliki potensi besar, kelompok UMKM di desa ini masih menghadapi berbagai kendala. Salah satu kendala terbesar adalah terbatasnya kapasitas produksi yang mempengaruhi kemampuan mereka untuk memenuhi permintaan pasar yang terus meningkat,” jelas Syahri.
Dalam menghadapi tantangan tersebut, kelompok UMKM seperti Makmur Jaya dan Camilan Enak A & I, yang dipimpin oleh Hufifah Filayani, selalu berusaha mencari solusi inovatif. Ketika tim dosen UM menawarkan solusi melalui pengabdian masyarakat pelaku usaha ini menyambutnya dengan antusias.
“Mereka menyadari bahwa hanya dengan beradaptasi terhadap teknologi terbaru. Mereka bisa bersaing dan bertahan di pasar yang semakin kompetitif,” jelas Syahri.
Tidak hanya itu, pelatihan pemasaran digital juga diberikan kepada peserta. Tim peneliti menyadari bahwa kualitas produk yang baik perlu diimbangi dengan strategi pemasaran yang tepat.
“Kami juga melatih untuk memanfaatkan teknologi digital dalam memperluas jangkauan pasar. Hasilnya, produk UMKM dari Pademawu Barat kini mulai merambah pasar di luar Pamekasan, dengan penjualan yang meningkat secara signifikan,” ungkap Syahri.
Peserta pelatihan, termasuk Hufifah Filayani, belajar cara mengoperasikan mesin, melakukan perawatan rutin, dan menangani permasalahan teknis dasar. Dalam pelatihan ini, peserta didorong untuk memahami teknologi yang digunakan sehingga mereka tidak hanya menjadi operator, tetapi mampu melakukan pemeliharaan dan troubleshooting secara mandiri.
Menurut Hufifah mesin dari dosen UM ini menjadi jawaban dari impian lama untuk memenuhi permintaan pelanggan yang kian hari semakin banyak. “Bagi kami, ini adalah sebuah lompatan besar. Dulu, kami membutuhkan waktu berjam-jam untuk menyelesaikan satu batch produksi, dengan mesin ini waktu produksi bisa dipangkas hingga setengahnya,” ujar Hufifah.
Meskipun program ini membawa banyak manfaat, tantangan tidak serta-merta hilang. Adaptasi terhadap teknologi baru bukanlah hal yang mudah, terutama bagi kami yang sudah terbiasa dengan cara kerja manual,” ungkap salah satu peserta pelatihan.
Dengan pendampingan yang terus dilakukan oleh tim dosen, pelaku UMKM ini optimis bisa mengatasi tantangan tersebut. Anggota tim peneliti, Andika Bagus N.R.P menjelaskan bahwa peningkatan kapasitas produksi sebesar 30% adalah salah satu hasil konkret dari implementasi mesin ini. Namun, yang lebih penting dari itu adalah peningkatan kualitas produk.
“Mesin ini dilengkapi dengan sistem kontrol otomatis yang dapat meminimalkan kesalahan manusia. Dengan demikian, kualitas produk lebih konsisten, yang pada akhirnya meningkatkan kepercayaan pelanggan,” jelas anggota tim peneliti.
Keberlanjutan program ini juga menjadi perhatian utama. Tim peneliti dari Universitas Negeri Malang berencana untuk terus melakukan monitoring dan evaluasi terhadap implementasi mesin ini.

“Kami ingin memastikan bahwa mesin ini benar-benar memberikan manfaat jangka panjang bagi UMKM di sini. Oleh karena itu, kami akan terus melakukan pendampingan dan pelatihan lanjutan jika diperlukan,” ujar Dr. Karkono, anggota tim peneliti lainnya.
Pihaknya berharap agar lebih banyak lagi program pengabdian masyarakat yang dapat menjembatani antara inovasi teknologi dan kebutuhan riil masyarakat. Dengan demikian, peran perguruan tinggi dalam memajukan perekonomian lokal akan semakin terasa dan memberikan dampak yang lebih luas.
Harapan besar juga disematkan pada generasi muda di Desa Pademawu Barat. Dengan keterlibatan mahasiswa dalam program ini, diharapkan semangat inovasi dan adaptasi terhadap teknologi dapat terus berlanjut.
Ihtiar Rizqi Rahmatullah, salah satu mahasiswa yang terlibat dalam pelatihan mengungkapkan kebanggaannya bisa berkontribusi dalam program ini. “Ini adalah pengalaman yang sangat berharga bagi kami. Melalui program ini, kami belajar bahwa inovasi teknologi harus selalu berpihak pada masyarakat,” ujarnya. [dan/beq]






