Surabaya (beritajatim.com) – Dosen Fakultas Industri Kreatif (FIK) Universitas Surabaya (Ubaya) Guguh Sujatmiko M.Ds membuat inovasi board game tentang Cerita Panji bernama Kridha Wira Satya dalam disertasinya.
“Board game ini menghadirkan inovasi miniatur dengan desain realistis agar pesan filosofis Cerita Panji dapat diterima generasi muda, karena budaya tutur Cerita Panji kian lama makin menghilang,” kata Guguh, Kamis (15/8/2024).
Guguh menyebut, penyampaian budaya ini sebenarnya sudah dilakukan melalui beberapa media komunikasi visual. Namun, pesan hanya tersampaikan satu arah, hanya orang-orang tertentu saja yang bisa menikmatinya.
“Karena itu saya adaptasi Cerita Panji ke dalam board game. Berdasarkan riset, board game jadi sarana paling menyenangkan dan bisa dipakai untuk media menyalurkan nilai budaya Jawa Timur ini jadi jauh lebih baik,” ujarnya.
Keunggulan board game ini yakni dengan adanya miniatur yang menggambarkan 4 tokoh Cerita Panji, yaitu Panji Asmorobangun, Dewi Sekartaji, Dewi Galuh, dan Butho Ijo dengan realistis. Miniatur ini terdiri dari versi besar 15 cm dan versi mini dengan ukuran sekitar 7 cm.
“Sesuatu yang abstrak dari budaya tutur tersebut, saat ini bisa dipegang secara langsung oleh audiens sebagai bentuk aktual di tangan mereka. Miniaturnya bisa jadi pajangan dan koleksi. Ini jadi unique selling point yang membedakan dengan board game lainnya,” jelas Guguh.
Tak hanya dibuat realistis, visual pada kartunya pun juga memperlihatkan ekspresi tokoh-tokohnya yang beragam. Ada ekspresi paling rendah sebagai wujud kesedihan hingga ekspresi percaya diri untuk bisa mengalahkan musuh.
Guguh mengaku, inilah yang menjadi tantangan saat pengerjaan board game. Ia harus menggambarkan secara akurat bentuk visual tokoh seperti apa yang diceritakan oleh pujangga-pujangga pada masa Kerajaan Majapahit.
“Selain itu, alur permainannya pun memiliki makna filosofis Jawa terkait keseimbangan dan paradoks menang kalah yang menjadi keunikan tersendiri,” paparnya.
Cara permainannya adalah pemain akan dibagi menjadi dua tim, tim baik dan tim jahat. Tim baik terdiri dari Panji Asmorobangun dan Dewi Sekartaji, sedangkan tim buruk yaitu Dewi Galuh dan Butho Ijo.
Kedua tim berusaha mengumpulkan energi sebanyak-banyaknya untuk memenangkan permainan. Tim yang berhasil mengumpulkan energi lebih tinggi adalah pemenangnya.
Namun, di akhir permainan, pemain harus berhati-hati agar poin tim tidak berkurang karena serakah, itulah filosofi Jawa dari board game ini yang dapat dirasakan oleh pemain.
Board game dimainkan secara tim dan diperuntukkan untuk anak muda berusia 13 tahun ke atas. Kridha Wira Satya telah dimainkan oleh lebih dari 500 anak muda di Surabaya dan Bali dengan durasi satu kali permainan sekitar 10 menit.
Ke depannya, Guguh akan bekerja sama dengan Dinas Pariwisata Jawa Timur untuk menjadikan board game ini sebagai merchandise untuk tamu negara atau tamu luar negeri. Selain itu, ia juga akan bekerja sama dengan kafe agar penyebarannya dapat menyasar langsung ke anak muda.
“Rencananya juga akan diberikan ke pengrajin. Bentuk miniatur ini bisa jadi role model. Jadi di setiap daerah di Jawa Timur maupun daerah lain punya perkembangan sendiri terkait miniaturnya. Harapannya, melalui board game Kridha Wira Satya, nilai-nilai luhur Cerita Panji bisa dipahami dan diaplikasikan ke kehidupan masyarakat,” pungkasnya. [ipl/ted]






