Malang (beritajatim.com) – Menjelang musim liburan Natal dan Tahun Baru (Nataru), Kota Malang dan Kota Batu diprediksi akan mengalami lonjakan wisatawan yang signifikan. Prediksi ini semakin kuat mengingat adanya libur semester sekolah yang berbarengan dengan perayaan akhir tahun, yang memperbesar kemungkinan peningkatan jumlah pengunjung.
Menurut Ardiyanto Maksimilianus, ST., M.Si., dosen Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang, peningkatan kunjungan akan mulai terasa sejak H-5 Natal. Puncak keramaian diperkirakan terjadi pada 23 Desember hingga malam tahun baru, dan diprediksi akan kembali normal setelah 5 Januari.
“Melihat tren tahun-tahun sebelumnya, kemungkinan besar kunjungan wisatawan akan lebih banyak dibandingkan 2022 dan 2023. Oleh karena itu, langkah antisipasi sangat penting,” ungkap Ardiyanto kepada beritajatim.com, Rabu (11/12/2024).
Ardiyanto juga mengingatkan pemerintah daerah untuk segera memetakan potensi titik-titik kemacetan berdasarkan data tahun-tahun sebelumnya. Salah satu langkah yang dianggap perlu adalah penerapan satu jalur sementara di beberapa titik untuk mengurai kemacetan. Selain itu, penertiban pemanfaatan ruang di sekitar jalan, termasuk area parkir, juga sangat diperlukan untuk mendukung kelancaran lalu lintas.
Selain langkah-langkah sementara, Ardiyanto juga menilai bahwa perencanaan jangka panjang perlu dilaksanakan. Optimalisasi transportasi publik menjadi salah satu solusi untuk mengurangi kemacetan, baik pada puncak kunjungan maupun di hari-hari biasa. Pemerintah juga harus fokus pada peningkatan infrastruktur lalu lintas, seperti perbaikan jalan dan fasilitas pendukung lainnya.
Namun, bukan hanya kemacetan yang menjadi tantangan bagi Kota Malang dan Batu. Masalah banjir dan genangan air yang sering terjadi akibat buruknya sistem drainase juga perlu mendapat perhatian serius. Menurut Ardiyanto, tingginya intensitas hujan, terbatasnya daerah resapan, serta masalah sedimentasi dan sampah adalah faktor utama penyebab banjir.
“Dokumen tata ruang seperti RTRW dan RDTR sudah mengatur kebutuhan Ruang Terbuka Hijau dan daerah resapan. Namun, implementasi dan pengawasan yang lemah menjadi kendala besar,” ujarnya.
Salah satu solusi yang pernah dicoba adalah proyek jacking di Kecamatan Sukun yang dinilai cukup efektif oleh masyarakat setempat. Namun, evaluasi pemerintah menunjukkan bahwa model ini kurang optimal dan kini diarahkan ke pembangunan drainase konvensional.
Ardiyanto menegaskan bahwa normalisasi saluran drainase dan pemetaan titik prioritas harus menjadi fokus utama pemerintah. “Masalah kemacetan dan banjir ini membutuhkan kerja sama dari semua pihak, termasuk masyarakat. Kesadaran untuk mematuhi aturan tata ruang dan menjaga lingkungan menjadi kunci utama,” ujarnya.
Dengan persiapan matang dan langkah strategis yang tepat, diharapkan Kota Malang dan Batu dapat mengelola lonjakan wisatawan serta mengatasi permasalahan perkotaan secara berkelanjutan. [dan/beq]






