Surabaya (beritajatim.com) – Marketplace masih menjadi primadona bagi pelaku UMKM untuk memasarkan produknya. Termasuk Domscorner, sebuah bisnis dengan produk fesyen lokal asal Surabaya ini.
Pemilik Domscorner Surabaya Noviana Simbar mengaku jika dirinya merintis usahanya dengan memanfaatkan jaringan marketplace.
Produk fesyen itu ia rintis bermula ketika menjadi reseller dengan membeli produk-produk baju di Pasar Tanah Abang Jakarta Pusat pada 2016 lalu.
“Setelah bertahun-tahun menjadi reseller, saya merasa punya pangsa pasar sendiri, kemudian berminat membuka usaha konveksi sendiri sekitar akhir tahun 2020,” ungkap Novia, Minggu (10/12/2023).
Apes, di awal pembukaan usaha ia justru terdampak pandemi Covid-19. Sebab, saat itu diberlakukan PPKM, sehingga semua pesanan terputus.
BACA JUGA:Pelaku Pengeroyokan Pelajar di Bojonegoro Masih Berkeliaran
“Tidak ada barang, penjahit tutup, dan tidak bisa memenuhi permintaan konsumen,” katanya.
Noviana mengakui, ia tidak memiliki kemampuan dasar maupun pengalaman sebagai seorang desain fesyen. Namun, karena ketekunannya bertukar ilmu dan pikiran dengan teman-temannya, Novi pun akhirnya bisa mendapatkan pengetahuan seputar fesyen desain.
Bahkan, Novi sempat mencari seorang penjahit serta membeli mesin jahit bekas untuk menunjang usahanya tersebut. “Awalnya saya buka usaha bareng seorang teman. Mulai jualan dengan modal awal masing-masing Rp 500 ribu dengan teman sama, kemudian menyiapkan dua model baju, tapi saat itu tidak laku terjual,” ujarnya.
Setelah itu, Noviana fokus membuka usaha sendiri dan dipasarkan melalui story di media sosial Instagram dan Tiktok. “Karena banyak teman yang suka dan perlahan usaha saya mulai berkembang,” ungkapnya.
Dengan jumlah karyawan yang sebagian besar berasal dari warga sekitar yang saat ini mencapai 70 orang meliputi penjahit, quality control, bagian operasional, admin, hingga medsos, Domscorner kini bisa memenuhi permintaan pesanan 150-200 pieces baju per hari.
Namun, usaha konveksi yang dirintisnya bisa memenuhi pesanan hingga 1.000 pieces per hari, terutama saat Harbolnas (Hari Belanja Online Nasional).
BACA JUGA:Warga Jombang Diimbau Lapor Damkar Jika Ada Sarang Tawon Vespa
“Bahkan, kini ada tiga lokasi yang bisa digunakan untuk aktivitas para karyawan. Satu lokasi rumah di kawasan Pakal Surabaya untuk Admin dan pembuatan live konten di medsos. Lokasi kedua digunakan gudang pengiriman barang, dan lokasi ketiga di Gresik untuk konveksi atau aktivitas menjahit,” jelasnya.
Perempuan kelahiran Tolitoli, Sulawesi Tengah, 7 November 1993 itu menjelaskan, permintaaan tinggi itu biasanya menjelang Lebaran, Natal, dan Tahun Baru Imlek. Karena baju yang dipesan kebanyakan tematik.
“Sampai saya harus mencari penjahit tambahan yang khusus membantu menyelesaikan pesanan baju. Mulai dari tukang pola, tukang potong kain, jahit sampel, pasang kancing, hingga bagian finishing. Harga baju yang dijual melalui marketplace dan online shop ini mulai Rp 50 ribu hingga Rp 200 ribu per set, bergantung ukuran dan kerumitan jahitan,” pungkas Novi. (Ipl/Aje)






