Banyuwangi (beritajatim.com) – Pengurus Daerah (PD) Dewan Masjid Indonesia (DMI) Banyuwangi terus melakukan pembinaan terhadap manajemen masjid secara keseluruhan. Hal itu mencakup pembinaan imam maupun khatib masjid.
Tujuannya, kegiatan berupa pembinaan manajemen dan bimbingan teknis imam-khatib menuju masjid paripurna 2023. Kegiatan ini berpusat di Madrasah Ibtidaiyah Nurul Athhar, Desa Benculuk, Kecamatan Cluring.
“Kegiatan pembinaan kali ini dilangsungkan di lima titik. Antara lain pada Kecamatan Blimbingsari, Kecamatan Cluring, Kecamatan Siliragung, Kecamatan Kalipuro, dan Kecamatan Genteng,” jelas Ketua PD DMI Kabupaten Banyuwangi H. Fathur Rahman M. Pd. I saat membuka kegiatan.
Fathur Rahman menegaskan keterlibatan pengurus dan anggota DMI penuh dengan nilai-nilai pengabdian. Terutama dalam kehadiran pengurus saat masjid-masjid ketika berhadapan dengan permasalahan dan konflik sosial kemasyarakatan.
“Dengan keikhlasannya turut menguraikan persoalan-persoalan. Kemudian pada saat ini, fungsi masjid sempurnanya tidak hadir pada persoalan sebagai tempat sholat. Atas seluruh isu sosial takmir masjid harus memiliki kepekaan yang tajam untuk hadir kepedulian sosial,” ujarnya.
BACA JUGA:
Gercep, Banyuwangi Ayo Kursus Gratis, Banyak Pilihan Keterampilan
Sementara itu, pemateri H. Mukhlis dari PD DMI Banyuwangi menyebutkan, terdapat beberapa kompetensi khotib yang harus dimiliki dan ditinjau. Pertama, aspek kepribadian yaitu amanah dan menjadi teladan.
Kedua, profesional memiliki keahlian dan materi dapat dipertanggungjawabkan. Ketiga, komunikatif yaitu harus mampu melihat situasi dan kondisi jamaah). Terakhir, khotib harus memiliki kepribadian yang inklusif yaitu membaur pada seluruh elemen masyarakat.
“Pada point terakhir sosok khotib haruslah figur yang disenangi oleh seluruh masyarakat, tanpa membedakan kelas sosial kemasyarakatan. Wajarlah khotib dan imam menjadi teladan masyarakat,” ungkap Mukhlis.
Sebagai khatib, kata Muklis, harus memilih materi yang terbaru dan sesuai dengan tema sosial kemasyarakatan terbaru. Sehingga tidak melulu berkutat dengan materi dan persoalan lama yang terus diulang.
BACA JUGA:
Deretan Pemenang Program Inkubasi Jagoan Banyuwangi
“Lebih utama adalah figur yang satu paket dapat menjadi khotib dan juga imam shalat jumat. Pun harus hindari tema-tema khutbah sensitif kepada jemaah, misalnya persoalan politik,” terang Muklis di akhir materinya.
Selain itu, para peserta juga mendapat materi mengenai teknis bacaan dan gerakan salat. Materi itu disampaikan langsung oleh Usatz Ahmad Zakariya.
Dalam bimtek ini, hampir seluruh imam masjid yang berasal Kecamatan Purwoharjo, Tegaldlimo, Muncar, dan Cluring turut hadir. [rin/beq]






