Jember (beritajatim.com) – Piala Dunia 2022 di Qatar menghadirkan banyak kejutan sejak awal. Mulai dari Arab Saudi yang mengalahkan Argentina dalam babak penyisihan grup hingga Maroko yang berhasil menembus semifinal dengan mengalahkan Spanyol dan Portugal di fase gugur.
Daftar tim unggulan yang tumbang semakin panjang jika menambahkan Belgia, Jerman, Denmark, Brasil, dan Uruguay. Kecuali Brasil, semua tim tersebut tak lolos fase penyisihan grup. Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa tim-tim unggulan tumbang, termasuk saat adu penalti?
Beritajatim.com mewawancarai Divaldo Alves, pelatih berkebangsaan Portugal yang pernah melatih Persebaya Surabaya dan kini melatih Persik Kediri. “Ini mungkin soal mental. Kita tahu Eropa adalah tempat yang paling bagus untuk sepak bola. Semua top. Punya pelatih top. Punya kualitas dan fasilitas,” katanya, Senin (12/12/2022).
“Tapi kita lupa, negara-negara seperti Maroko dan Arab Saudi juga punya uang. Mereka bawa banyak pelatih yang top dari Eropa ke sana untuk melatih para pemain. Ini membuat para pemain juga bagus,” kata Divaldo.
Sebut saja Harve Rennard, pelatih Prancis, yang melatih Arab Saudi. Di bawah cahaya terang taktiknya, Saudi menjungkalkan Argentina 2-1 di babak penyisihan Grup C. Korea Selatan dilatih pelatih Portugal Paulo Bento dan dengan gagah mengalahkan Portugal 2-1 dan menahan Uruguay 0-0 di penyisihan Grup H.
[berita-terkait number=”4″ tag=”piala-dunia”]
Belum lagi banyak pemain asal negara-negara seperti Maroko, Jepang, dan Korea Selatan yang juga bermain di Benua Biru. Kompetisi di Eropa membuat mereka matang. “Materi latihan dan gaya bermain tidak jauh berbeda,” kata Divaldo.
Divaldo menduga tim-tim Eropa meremehkan tim-tim asal Asia dan Afrika. Mereka tidak menyangka tim seperti Maroko akan memberikan perlawanan ketat, sehingga siap menghadapi adu penalti. “Saat adu penalti terlalu rileks dan belum siap,” katanya.
“Mereka lupa jika intensitas fisik Maroko, Portugal, Kroasia sama. Apalagi waktu Argentina kalah 1-2, Saudi Arabia ada intensitas. Tim paling lemah adalah Qatar. Tapi mereka juga punya intensitas,” kata Divaldo. [wir/but]






