Jakarta (beritajatim.com) – Menteri BUMN Erick Thohir ternyata mendapat penerimaan secara terbuka dari sejumlah politisi, termasuk dari kalangan PDI Perjuangan. Hal ini menunjukkan Erick potensial diusung menjadi cawapres oleh PDIP.
Seperti penerimaan yang disampaikan politisi PDIP Adian Napitupulu. Dia menyatakan tidak keberatan jika Erick diusung partainya sebagai cawapres.
Namun demikian, dia menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada elite partai. Apapun keputusan partai, dia siap terima.
“Tergantung partai. Apapun keputusan partai, siapapun kita terima termasuk menjadi wakil presiden,” terang Adian, Selasa (3/1/2023).
Dalam sejumlah survei, Erick merupakan cawapres terkuat. Ini wajar, mengingat rekam jejak Erick yang cemerlang.
Di jajaran Kabinet Indonesia Maju Jilid II, Erick adalah menteri yang jadi andalan Presiden Joko Widodo. Di luar pemerintahan, Erick dikenal sebagai pengusaha yang penuh terobosan.
Jika berdasarkan hasil survei lembaga Survei dan Polling Indonesia (SPIN), angka elektabilitas Erick Thohir berada di peringkat pertama. Eks Presiden Inter Milan ini memiliki angka elektabilitas sebesar 19,2 persen.
Di belakang Erick, ada Gubernur Jawa Barat (Jabar) dan Ketum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Di mana keduanya memiliki elektabilitas sebesar 16,1 persen dan 4,1 persen.
Tidak jauh berbeda dengan hasil temuan nasional terbaru Poltracking Indonesia. Elektabilitas Erick sebagai cawapres juga berada di posisi pertama.
Dari simulasi 10 nama cawapres, tokoh pemimpin yang bekerja nyata ini memiliki elektabilitas sebesar 16,1 persen di periode 21 – 27 November. Angka tersebut kembali mengungguli Ridwan Kamil dan AHY dengan elektabilitas masing-masing 15,1 persen dan 12,0 persen.
[berita-terkait number=”3″ tag=”erick-thohir”]
Dari survei yang sama, Erick Thohir bahkan terekam sangat kuat ketika dipasangakan dengan kader dari PDI Perjuangan yakni Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Duet Ganjar Pranowo – Erick Thohir terekam sebesar 33,1 persen.
Angka elektabilitas tersebut menjadi yang teratas dalam berbagai simulasi. Ketika Ganjar Pranowo dipasangkan dengan Ridwan Kamil angka elektabilitas justru menurun menjadi 30,5 persen.
Maka dari itu, Adian menyatakan menyerahkan keputusan cawapres kepada PDI Perjuangan. Mengingat keputusan partai berdasarkan berbagai pertimbangan matang dan memiliki banyak masukan dari berbagai pihak.
“Partai punya banyak sekali telinga, punya banyak sekali mata, punya banyak sekali masukan dari kiri kanan atas bawah, sehingga dalam mengkaji dan memutuskan partai lebih valid,” pungkas Adian. [beq]






