Jember (beritajatim.com) – David K Susilo, Event Director Jember Fashion Carnaval (JFC), mengkritik pembangunan sektor pariwisata di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Menurutnya, performa pariwisata Jember pada 2021 masih belum menunjukan pergerakan yang agresif.
“Belum terlihat pembinaan dan pendampingan terhadap pelaku pariwisata dalam beradaptasi di era pandemi, pemetaan jumlah pontesi desa wisata atau obyek wisata yang masih bertahan dan tidak, serta bagaimana strategi untuk tetap bertahan,” kata David, Senin (10/1/2022).
David mempertanyakan kehadiran pemerintah dalam memberikan optimisme kepada pelaku pariwisata. “Bahkan ketika kami bertanya, jawabanya hanya sederhana: ‘maaf anggaran di OPD (Organisasi Perangkat Daerah) kami terbatas dan kecil’. Itu bukan jawaban. Semestinya bukan masalah besar kecilnya anggaran, tapi lebih pada kreativitas dalam mengelolanya, karena tidak ada anggaran OPD yang besar. Pasti ada batasnya sesuai perundang undangan yang berlaku,” katanya.
[berita-terkait number=”5″ tag=”JFC”]
David mengingatkan, jargon ‘wes wayahe mbenahi Jember’, ‘Jember Permata Jawa’, ‘wes wayahe Jember kueren’ memiliki makna semangat untuk meningkatkan Travel and Tourism Competitiveness Index (TTCI) secara regional dan nasional. “Tapi selama kurun 2021 pada masa pandemi ini pariwisata Jember masih belum bisa optimal. Bahkan web http://jembertourism.com/ yang dikelola Dinas Pariwisata berhenti update sejak 2016,” kecamnya.
“Begitu juga rencana induk pariwisata, road map pariwisata, kami masih belum menemukan implementasi yang jelas. Seestinya konsep pariwisata itu berkelanjutan atau sustainable tourism. Tapibagaimana bisa berkelanjutan kalau dalam hal-hal yang sifatnya esensial tidak ada penguatan tata kelola manajemen organisasi perangkat daerah,” kata David.
“Sehebat apapun jargon visi-misi pariwisata pasangan Bupati Hendy -Wabup Gus Firjaun, kalau tidak di terjemahkan secara strategis teknis oleh organisasi perangkat daerah, maka pariwisata Jember akan sulit mengejar ketinggalan dan sulit memulihkan sektor ekonomi kreatif,” kata David.
David menawarkan empat jurus poembenahan sektor pariwisata. “Pertama, membenahi tata kelola arah organisasi perangkat daerah berbasis data dan potensi yang berorientasi pada kebutuhan tren pasar pariwisata regional, nasional, dan bukan hanya mampu membuat program kerja versi organisasi perangkat daerah,” katanya.
“Berikutnya, membenahi kapasitas sumber daya manusia organisasi perangkat daerah yang memiliki sensitivitas dan responsif akseleratif terhadap pariwisata Jember. Selain itu membenahi sumber daya manusia pelaku lokal pariwisata agar supaya lebih adaptif terhadap perubahan masa pandemi ini,” kata David.
Solusi ketiga, menurut David, adalah membenahi sistem arah ekonomi kreatif pariwisata Jember. “Sistem ini harus memiliki tolak ukur kontribusinya terhadap Produk Domestik Regional Bruto daerah. Perlu penguatan multi telenta pelaku seni budaya dan industri dalam membentuk ekonomi kreatif yang lebih luas dan berdaya saing di masa pandemi,” katanya.
Terakhir, David menyarankan, pembenahan sistem informasi manajemen pariwisata Jember yang terintegrasi, serta memiliki kemampuan pemetaan potensi konektivitas dengan informasi pariwisata global. [wir/kun]






