Gresik (beritajatim.com)– Demi mewujudkan alokasi pupuk bersubsidi tepat sasaran. Direksi Petrokimia Gresik (PG) rela blusukan ke provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) serta pulau terluar untuk mensosialisasikan alokasi tambahan pupuk bersubsidi.
Perusahaan anggota holding Pupuk Indonesia itu mendatangi kios, dan distributor pupuk. Sesuai schedule-nya. Alokasi pupuk bersubsidi di NTT tahun 2024 yang telah ditetapkan pemerintah dari 4,7 juta ton menjadi 9,5 juta ton.
Direktur Keuangan dan Umum PG, Robby Setiabudi Madjid mengatakan, tambahan alokasi pupuk bersubsidi untuk urea yang semula 36.408 ton menjadi 62.228 ton. Kemudian alokasi NPK dari 32.858 ton menjadi 70.244 ton. Hal yang sama pada
NPK Kakao dari 95 ton menjadi 659 ton.
“Kami sudah berkeliling ke distributor dan kios-kios yang ada di NTT, seperti ke Maumere. Serta blusukan ke distributor dan kios di Kepulauan Rote yang menjadi wilayah paling selatan Indonesia. Sosialisasi ini dilakukan agar penambahan alokasi ini bisa dioptimalkan oleh petani untuk mendorong produktivitas pertanian serta ketahanan pangan,” katanya, Jumat (17/5/2024).
Lebih lanjut Robby menuturkan, agar petani bisa mengoptimalkan tambahan alokasi pupuk ini. Pihaknya juga telah menyiapkan
stok pupuk bersubsidi di gudang-gudang lini II (provinsi) maupun lini III (kabupaten/kota) di NTT.
“Adapun stok pupuk bersubsidi yang disiapkan Petrokimia Gresik untuk NTT sebanyak 20.557. Persediaan tersebut jauh melampaui stok minimal yang diwajibkan oleh Pemerintah,” tuturnya.
Rinciannya, stok Urea bersubsidi sebanyak 12.827 ton atau sekitar 352 persen dari stok minimal yang dipersyaratkan pemerintah, yaitu 2.324 ton. Sementara persediaan stok NPK di NTT saat ini sebanyak 7.730 ton atau 298 persen dari ketentuan minimum sebesar 2.594 ton.
“Stok tersebut aman untuk memenuhi kebutuhan pupuk bersubsidi petani selama 14 hari kedepan. Kami akan terus memastikan ketersediaan pupuk terjaga sehingga penambahan alokasi yang telah dilakukan pemerintah benar-benar memberikan dampak positif,” ungkap Robby.
Ia menjelaskan penyerapan pupuk bersubsidi di NTT saat ini perlu dioptimalkan. Realisasi penyaluran Urea di NTT hingga Mei 2024 ini baru di angka 17 persen dari alokasi atau 10.378 ton, kemudian NPK juga masih 14 persen atau 9.828 ton.
“Dengan kemudahan penebusan pupuk bersubsidi yang hanya menggunakan KTP, pengawasan penyaluran semakin diperketat. Untuk bisa mendapatkan pupuk bersubsidi sesuai Permentan Nomor 01 Tahun 2024, petani harus tergabung dalam Kelompok Tani dan terdaftar dalam elektronik rencana definitif kebutuhan kelompok (e-RDKK),” paparnya. [dny/aje]






