Ponorogo (beritajatim.com) – Keganasan gigitan nyamuk Aedes Aegypti kembali menelan korban jiwa di Kabupaten Ponorogo.
Laporan dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Ponorogo untuk kasus demam berdarah dengue (DBD) yang meninggal dunia ada 2 orang.
Lagi-lagi yang menjadi korban yakni anak-anak. Terbaru, pasien anak berumur 3 tahun yang dirawat di salah satu rumah sakit swasta di bumi reog. Sebelumnya, pada tanggal 12 Maret lalu, pasien anak berumur 10 tahun, yang sempat mendapatkan perawatan medis di RSUD dr. Harjono Ponorogo.
“Sementara ada 2 kasus kematian akibat penyakit DBD ini di Ponorogo,” kata Kepala Dinkes Ponorogo, Dyah Ayu Puspitaningarti, ditulis Sabtu (16/03/2024).
Ayu sapaan Dyah Ayu Puspitaningarti mengungkapkan bahwa 2 warga yang meninggal karena penyakit DBD ini, sama-sama mengalami dengue shock syndrome (DSS) atau istilah awamnya fase kritis. Kondisi itulah yang akhirnya menyebabkan yang bersangkutan meninggal dunia.
“Saya meminta masyarakat untuk rutin melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Inilah salah satu upaya untuk mencegah penyakit DBD,” katanya.
Data dari Dinkes Ponorogo, kasus DBD di bumi reog pada bulan Januari sebanyak 7 kasus dan bulan Februari ada 6 kasus. Ayu menjelaskan bahwa data DBD di Dinkes berbeda dengan data pasien yang dilayani di rumah sakit. Untuk kasus DBD ada kriteria khusus. Kriteria khusus ini merupakan standar dari program Kementerian Kesehatan. Baru setelah itu, diklasifikasikan sebagai kasus DBD.
“Ada kriteria khusus sesuai dengan program kementerian. Sehingga data DBD di Dinkes dengan data pasien di rumah sakit jelas berbeda,” katanya.
Diberitakan sebelumnya, satu pasien anak-anak yang terjangkit demam berdarah atau mengalami Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) di Kabupaten Ponorogo meninggal dunia. Anak perempuan berumur 10 tahun itu, sebenarnya sempat mendapatkan pertolongan medis di RSUD dr. Harjono Ponorogo. Namun, karena saat masuk rumah sakit, sang anak sudah dalam keadaan kritis, akhirnya nyawanya tidak tertolong.
Menurut informasi yang dihimpun beritajatim.com, pasien anak asal Kecamatan Siman itu masuk Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD dr. Harjono Ponorogo sekitar pukul 16.03 WIB pada Selasa (12/3).
Karena keadaannya yang sudah parah, sang pasien pun masuk ruang Intensive anak. Selang beberapa jam, tepatnya pukul 20.00 WIB, pasien anak itu akhirnya meninggal dunia.
Dalam pemeriksaan, Dokter Anak di RSUD dr Harjono, Eko Jaenudin menyebutkan bahwa pasien sudah mengalami dengue shock syndrome (DSS). Hal itu ditandai dengan tanda-tanda tangan pasien yang dingin, nadi yang tidak teraba. Selain itu pasien juga mengalami kejang, sesak nafas dan muntah darah.
“Pasien sudah DSS, kondisi kritis mengalami pendarahan dan muntah darah,” katanya.(end/ted)






