Surabaya (beritajatim.com) – Dinas Kesehatan (Dinkes) Surabaya melakukan upaya pencegahan dini mengantisipasi penularan penyakit Monkeypox (Mpox). Berdasarkan data dirilis Kementerian Kesehatan RI, penyakit kulit cacar monyet itu telah menyebar di Indonesia. Sedangkan di Jawa Timur ditemukan ada 3 kasus.
Ketua Tim Kerja Surveilans dan Imunisasi, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya, Moh. Ashadi Mu’minin mengatakan, saat ini Mpox di Surabaya nihil kasus.
Namun demikian, Dinkes Surabaya tetap berupaya melakukan pencegahan, dengan melakukan sosialisasi hidup bersih kepada warga dan memperketat pengawasan di jalur pintu masuk kota, pelabuhan dan bandara.
“Kami sudah menyosialisasikan soal managerial gejala Mpox, cara penularan, hingga ke langkah – langkah pencegahannya. Kemudian bekerjasama dengan otoritas pelabuhan dan bandara. Dengan bertujuan memperketat pengawasan pintu-pintu masuk,” papar Ashadi, melalui keterangan tertulis, Jumat (30/8/2024).
Ashadi juga menjelaskan, Pemkot Surabaya telah meningkatkan kapasitas serta penguatan jejaring Fasilitas Pelayanan Kesehatan (Fasyankes) untuk deteksi dini, pelatihan, dan pengendalian Monkey pox.
Selain itu, juga dilakukan pelatihan kepada warga masyarakat melalui jajaran organisasi perangkat daerah (OPD), kelurahan, kecamatan, RS, sampai puskesmas. “Kami lakukan pengecekan dan konfirmasi kasus 1×24 jam, itu harus dilaporkan. Sehingga dari situ kita akan tindaklanjuti agar penanganannya lebih cepat,” jelas dia.
Sejauh ini Dinkes melakukan pemantauan kasus Mpox secara berkala. Pemantauan kasus ini dilakukan melalui aplikasi SKDR (Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon) dari Kementerian Kesehatan RI.
“Kami juga melakukan diseminasi soal informasi yang diteruskan ke masyarakat secara masif baik melalui media massa, atau sosial media, tujuannya agar tidak timbul hoaks atau kepanikan di masyarakat,” imbuhnya.
Pahami Gejala Mpox dan Cara Menghindari
Sementara itu, Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin RS. Husada Utama, Ni Putu Susari Widianningsih, menyampaikan upaya-upaya agar terhindar dari penyakit Mpox.
Putu menyebutkan, salah safu di antaranya adalah dengan menjaga pola hidup sehat, dan mengolah makanan dengan baik dan benar. Sebab penyakit Mpox bisa tertular melalui cairan di dalam tubuh, luka, hubungan sexual, droplet, hingga bekas luka Mpox
“Penyakit Mpox penularanya ini bisa dari hewan, dari makanan daging yang dimasak dengan cara tidak baik. Untuk itu penting kita memperhatikan kesehatan hewan peliharaan,” terang Putu Susari.
Menurut Putu, gejala terjangkit Mpox yang perlu diketahui masyarakat ini diantaranya terjadi pembesaran kelenjar getah bening, hingga terasa nyeri. “Timbul ruam-ruam, demam, itu harus waspada. Jika ada riwayat kontak atau bepergian, itu harus memeriksakan diri sesegera mungkin ke dokter,” jelasnya.
“Kami harap warga terus waspada jika kemudian ada gejala. Selain itu kami harap pemerintah bisa memperluas testing untuk pemeriksaan terhadap orang-orang bergejala, dan juga harus melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk menghambat penyebaran lebih luas lagi,” tandas Putu. [ram/suf]






