Surabaya (beritajatim.com) – Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur Erwin Astha Triyono resmi menyandang gelar profesor usai dikukuhkan menjadi Guru Besar Universitas Airlangga (Unair) Surabaya.
Dalam orasi ilmiahnya, Prof Erwin membeberkan seputar tantangan dan strategi pengendalian Penyakit Infeksi Emerging dan Re-Emerging (PIE-RE).
Ia menjelaskan bahwa PIE-RE adalah penyakit infeksi yang cepat menyebar di populasi manusia dan disebabkan oleh agen biologi, termasuk virus, bakteri, jamur, dan parasit.
“Sebagian besar, 75 persen penyakit infeksi merupakan zoonosis yang artinya ditularkan dari hewan kepada manusia,” ujar Prof Erwin, ditulis Jumat (22/12/2023).
PIE-RE terbagi menjadi tiga kategori, yaitu New Emerging Infectious Diseases, yang menyerang manusia untuk pertama kalinya, penyakit yang telah ada sebelumnya namun meningkat sangat cepat ke daerah geografis baru, dan Re-emerging Infectious Diseases, penyakit yang kasusnya sudah terkontrol namun meningkat kembali.
Dalam konteks Indonesia, Prof Erwin menekankan bahwa perkembangan masalah PIE-RE dipengaruhi oleh faktor manusia, seperti jumlah populasi dan meningkatnya perjalanan internasional.
“Dan juga faktor lingkungan negara tropis dengan populasi hewan liar yang beragam juga mendukung berkembangnya mikroorganisme penyakit,” katanya.
Selain itu, perubahan perilaku manusia juga berdampak signifikan pada penyebaran PIE-RE. Perubahan habitasi hewan atau patogen menyebabkan mereka lebih dekat dengan manusia sehingga meningkatkan risiko penularan penyakit.
Seluruh faktor tersebut, menurutnya, memiliki potensi memicu wabah lokal hingga pandemik jika tidak ditangani dengan tepat.
Ia pun memberikan gambaran situasi epidemiologi beberapa PIE-RE yang menjadi ancaman di Indonesia. Sebagai contoh, kasus Mpox, Covid-19, dan HIV-AIDS. Untuk PIE-RE jenis Re-Emerging, Prof Erwin membahas Tuberkulosis (TB) dan Dengue, penyakit yang masih menjadi perhatian serius di berbagai daerah di Indonesia.
Dalam mengatasi tantangan ini, Prof Erwin menekankan pentingnya konsep One Health yang berbasis pada surveilans penyakit berbasis masyarakat dan laboratorium.
“Konsep One Health sebenarnya sangat bagus karena dapat mendeteksi penyakit secara tepat dan akurat. Namun, implementasinya masih kurang optimal karena adanya ego sektoral,” kata Prof Erwin.
Menurunya, konsep One Health dapat dilakukan dengan penguatan kerjasama lintas sektoral melalui pengesahan undang-undang turunan dari peraturan yang sudah ada.
Selain itu, penguatan pelayanan kesehatan, integrasi sistem database informasi kesehatan, dan pemaksimalan gaya hidup sehat juga menjadi fokus upaya pengendalian PIE-RE di Indonesia. [ipl/ted]






