Madiun (beritajatim.com) – Sosok Dwi Bagus Martono alias Tono (40), yang kini terseret kasus dugaan pembunuhan Dini Hardiyanti (30) dan anak kandungnya, AGF (4), jauh dari kesan mencurigakan di mata tetangga. Pria yang dikenal pendiam itu bahkan biasa berbaur dengan warga, mulai dari nongkrong di warung hingga mengikuti ronda malam.
Kabar keterlibatan Bagus dalam kasus kematian ibu dan anak tersebut sontak membuat warga di sekitar rumah orang tuanya di Gang Tentrem, Jalan Doho, Kelurahan Winongo, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun, tak percaya.
Eko Sumaryono, salah seorang tetangga, mengaku selama ini tidak melihat perilaku Bagus yang membuatnya menaruh kecurigaan. Meski jarang berada di rumah, Bagus masih sesekali terlihat berinteraksi dengan warga sekitar.
“Kalau di lingkungan sini ya biasa saja. Kadang ikut arisan, nongkrong di warung, juga pernah ikut kumpul di pos kamling. Makanya saya benar-benar tidak menyangka,” ungkap Eko saat ditemui, Senin (26/10/2026).
Eko mengaku tidak mengetahui secara pasti pekerjaan Dwi. Sepengetahuannya, pria tersebut lebih sering berada di luar kota sehingga jarang terlihat di lingkungan tempat tinggalnya.
Menurut Eko, selama berinteraksi dengan warga, Bagus tidak menunjukkan sikap yang membuat tetangga merasa curiga. Karena itu, kabar bahwa pria yang dikenalnya sebagai warga biasa tersebut diduga terlibat dalam kasus pembunuhan ibu dan anak terasa sulit dipercaya.
“Orangnya kelihatan tenang. Saya sering melihat dia di pos kamling bersama anak-anak saya. Tidak pernah terpikir bakal terjadi kejadian seperti ini,” tuturnya.
Rumah di Gang Tentrem itu diketahui merupakan kediaman orang tua Bagus. Sebuah mobil Suzuki Karimun yang biasa digunakan Bagus ketika pulang juga terparkir di lokasi tersebut.
Kendaraan itu turut menjadi perhatian setelah penyidik mendalami dugaan bahwa AGF meninggal di dalam mobil tersebut. Namun, kepastian mengenai peristiwa yang dialami kedua korban masih menjadi bagian dari proses penyidikan kepolisian.
Kasus yang menyeret Bagus mulai menjadi perhatian publik setelah keluarga Dini mengunggah informasi mengenai hilangnya ibu dan anak tersebut melalui media sosial Threads. Keluarga mengaku kehilangan kontak dengan keduanya sejak September 2026.
Komunikasi terakhir Dini dengan ibunya tercatat pada 20 September 2026 sekitar pukul 09.00 WIB. Saat itu, Dini mengabarkan sedang berada di sebuah hotel di Kota Madiun yang dipesan oleh suami sirinya untuk merayakan ulang tahun AGF.
Keluarga kemudian semakin curiga lantaran Bagus dinilai tidak memberikan penjelasan yang jelas mengenai keberadaan Dini dan anaknya. Upaya mencari kepastian itu berlanjut dengan laporan resmi ke Polres Madiun Kota pada 5 Oktober 2026 yang diajukan oleh adik Dini.
Polisi selanjutnya melakukan serangkaian penyelidikan hingga berhasil menangkap Bagus di wilayah Jombang pada Minggu (25/10/2026).
Penangkapan tersebut menjadi titik penting dalam pengungkapan kasus hilangnya Dini dan AGF yang sebelumnya mengundang perhatian luas masyarakat.
Kini, Bagus telah diamankan di Polda Jawa Timur untuk menjalani pemeriksaan dan proses hukum lebih lanjut. Sementara itu, di lingkungan tempat tinggalnya, kabar penangkapan tersebut meninggalkan keterkejutan bagi tetangga yang selama ini mengenalnya sebagai sosok biasa dan tidak banyak tingkah. (rbr/ian)






