Sampang (beritajatim.com) – Hujan yang menguyur Sampang dua hari ini membuat petani garam resah. Sebab, garam yang hampir jadi larut dan Kembali menjadi air laut guyuran air dari langit.
“Karena terjadi hujan, maka garam yang masih di tambak mencair lagi menjadi air,” ujar Agus Wedi, pemilik lahan garam di Desa Gulbung, Kecamatan Sampang, Kabupaten Sampang, Kamis (1/8/2024).
Agus juga khawatir cuaca yang tidak menentu ini bisa berlangsung lama. Karena, jika terik matahari tidak stabil maka berimbas pada kualitas produksi garam rakyat.
“Sebagai petani sekaligus pemilik lahan garam, harapannya kondisi cuaca pada musim kemarau tahun ini bisa bertahan lama hingga menjelang musim penghujan nanti,” harapnya.
Terpisah, petani garam di Desa Disanah, Kecamatan Sreseh, Kabupaten Sampang, mengaku cuaca yang kurang stabil kali ini memang menghambat produksi garam.
Namun, pada dasarnya tidak ada kerugian hanya memang produksi terhenti atau proses pengkristalan garam agak memakan waktu.
“Kalau kerugian materi tidak ada, hanya rugi tenaga karena produksi garam agak molor karena panas matahari kurang,” kata Sukron, petani garam Sampang. [sar/beq]






