Jember (beritajatim.com) – Digitalisasi sistem, termasuk akal imitasi (AI), memegang peran penting bagi dunia usaha untuk bertahan di tengah ancaman krisis ekonomi.
Demikian pandangan Ciplis Gema Qoriah, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jember di Kabupaten Jember, dan Edi Purwanto, Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur, Selasa (31/3/2026).
“Hemat itu tidak identik dengan pengurangan aktivitas ataupun mengurangi produktivitas. Namun lebih pada upaya untuk meminimalisir potensi pemborosan dalam suatu aktivitas dengan cara melakukan efisiensi, punya skala prioritas dan lebih terukur,” kata Edi.
Menurut Edi, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk penghematan dalam penggunaan energi. Pertama, melakukan substitusi energi dari energi berbasis bahan bakar minyak ke energi listrik atau ke gas dan energi alternatif lain. “Dengan demikian ketergantungan pada energi berbasis energi fosil dapat dikurangi,” katanya.
Pengusaha juga perlu melakukan rekayasa waktu operasional pabrikasi dan merawat mesin mesin produksi secara rutin, sehingga mengurangi potensi kerusakan yang tidak semestinya.
“Tinjau ulang sistem transportasi dan logistik karena ini komponen yang menyita banyak kebutuhan energi seperti BBM. Perlu dilakukan digitalisasi atas aktivitas bisnis, misal mengoptimalkan meeting online dan juga mengurangi perjalanan fisik yang tidak perlu, tanpa mengurangi produktivitas atas output yang ditargetkan,” kata Edi.
Sementara itu Ciplis menilai banyak industri yang masih menggunakan listrik yang disuplai PLN dengan sumber pembangkit berbahan bakar batubara dan gas alam. “Jika pada saatnya ketersediannya menipis, maka konversi sumber energi perlu dipikirkan,” katanya.
Untuk saat ini, bentuk penghematan yang bisa dilakukan oleh dunia industri adalah mengalokasikan penggunaan daya produksi secara cermat dengan memperhatikan skala prioritas.
“Misalnya, sehari berapa biaya langsung yang dibutuhkan karyawan dan bahan produksi, dan biaya tak langsung (over-head cost) untuk mencapai skala produksi dan revenue optimal dalam waktu yang ditargetkan,” kata Ciplis.
Ciplis melihat penggunaan teknologi AI akan bisa mengurangi beban biaya tenaga kerja dan memaksimalkan manfaat dalam menciptakan produk yang lebih berkualitas. “Instalasi ruangan, sistem produksi dan sistem penerangan yang efisien modern juga mengurangi beban biaya listrik,” katanya.
Ciplis juga menyarankan dilakukannya inovasi sumber energi non fosil, seperti tenaga surya, air, angin, gelombang laut dan kinetik. “Ke depan sumber energi non fosil perlu dikembangkan sebagai strategi untuk mengurangi ketergantungan terhadap sumber energi dari fosil,” katanya.
“Cepat atau lambat, ketersediaan sumber energi fosil akan menipis dan menimbulkan kerusakan lingkungan yang besar. Oleh karena itu pemerintah perlu secepatnya menerapkan skema kebijakan konversi energi ke energi baru dan terbarukan untuk semua penggerak roda ekonomi masyarakat,” katanya. [wir/aje]






