Sumenep (beritajatim.com) – Sanadi, pria asal Desa Pamolokan, Kecamatan Kota Sumenep, Madura ini punya hobi yang berbeda dari lainnya. Ia senang memelihara ular di rumahnya. Ada lebih dari 8 ular yang tinggal bersamanya di rumah.
“Ya kesenangan tiap orang kan macam-macam. Kalau saya memang senang sama ular itu sejak kecil. Mangkanya saya memilih pelihara ular di rumah,” ujarnya, Minggu (12/01/2025).
Baginya, dekat dengan ular itu punya tantangan tersendiri. Apalagi ular-ular berbisa seperti ‘King Cobra’. Tidak mudah menjinakkan ular dengan ‘bisa’ paling berbahaya itu. Karena ular ‘King Cobra’ cenderung tidak ramah dengan siapapun. Bahkan dengan pemiliknya pun kadang ‘King Cobra’ bisa melawan.
“Ya buktinya saya ini. Saya empat kali digigit King Cobra. Ini jari kelingking saya jadi korban. Yang nggigit ya King Cobra piaraan saya sendiri. Tapi Alhamdulillah kok saya masih diberi panjang umur oleh Allah,” tuturnya.
Meski sudah empat kali digigit ‘King Cobra’, Sanadi sama sekali tidak kapok untuk terus hidup bersama ular-ular kesayangannya. “Ya mungkin karena sudah seneng sekali ke ular, jadi meski pernah digigit, tapi saya tidak mau berhenti jadi pawang ular,” tegasnya.
Ia mengaku belajar khusus pada pawang ular yang lebih senior dan berpengalaman, bagaimana cara menjinakkan berbagai jenis ular, termasuk ‘King Cobra’.
“Kuncinya memang harus memahami ‘mood’ ular. Karena ini menentukan dia agresif atau tidak. Tapi biasanya kalau ular sudah dipelihara sejak kecil, cenderung lebih jinak dibanding yang langsung mengambil dari alam bebas,” ungkap sambil mengelus-elus ular Phyton yang melingkar di pundaknya.
Kecintaannya pada ular bak gayung bersambut ketika ia bertemu dengan para pecinta reptil di Komunitas Reptil Sumenep. Para anggota pecinta reptil ini bisa saling tukar pengalaman tentang ular dan aneka macam reptil lainnya.
Komunitas Reptil Sumenep itu sengaja berkumpul di Taman Adipura (alun-alun kota Sumenep: red), dengan membawa beberapa jenis reptil seperti ular dan Iguana. Warga Sumenep yang ingin tahu lebih banyak tentang reptil, bisa berbincang-bincang bersama para pecinta reptil itu. Bahkan yang ingin berswafoto bersama reptil juga dipersilahkan.
Rafi, pemuda asal Kelurahan Bangselok, Kecamatan Kota Sumenep yang juga anggota Komunitas Reptil itu mengaku ‘jatuh cinta’ pada ular sejak dia masih kecil. Kebetulan di keluarganya, semua adalah pecinta reptil.
“Seru aja kalau kita bisa dekat dengan ular, melihara ular di rumah. Ada 8 ular di rumah saya. Sebagian besar dipelihara sejak ular kecil,” terangnya.
Ia mengaku senang bisa bergabung dengan Komunitas Pecinta Reptil Sumenep, karena tidak sekedar bertemu dengan sesama pecinta reptil, tapi juga bisa mengedukasi masyarakat tentang reptil.
“Jadi seperti ular phyton yang saya bawa. Ini jenis ular yang tidak berbisa. Kalau dia mengigit, tidak ada racunnya. Cuma ya bisa sobek kalau ditarik,” ujarnya sambil tertawa.
Ia menjelaskan, ular biasanya akan lebih agresif saat ia akan berganti kulit. Kalau disentuh, biasanya ular akan mematok sebagai bentuk perlawanan. “Kan kulitnya sakit kalau pas ganti kulit itu. Mangkanya ular cenderung agresif dan bisa menyerang orang,” ungkapnya.
Ia mengatakan, ular-ular peliharaannya paling cepat makan 1 minggu 1 kali. Ia biasanya memberi makan kepala ayam pada ular-ular phyton yang ada di rumahnya. “Ada kandangnya di rumah. Jadi tidak dibiarkan berkeliaran lepas,” katanya. [tem/aje]






