Gresik (beritajatim.com) – Sepanjang 2024, warga Gresik diresahkan oleh kemunculan ratusan ular berbagai jenis yang memasuki pemukiman. Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarla) Gresik mencatat telah mengevakuasi sebanyak 345 ular, mulai dari jenis kobra hingga piton. Jumlah ini diprediksi akan terus bertambah di tahun 2025.
Kepala Damkarla Gresik, Suyono, menjelaskan bahwa ratusan ular yang dievakuasi tersebut dikumpulkan di tempat aman sebelum diserahkan ke Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur.
“Semua ular berbagai jenis itu setiap ada 5 ekor yang diamankan langsung dilaporkan ke BKSDA,” katanya, Sabtu (11/1/2025).
Selain diserahkan ke BKSDA, ular-ular yang jinak juga digunakan oleh komunitas pecinta reptil untuk hiburan, tentunya dengan syarat dan pengawasan ketat.
“Khusus yang satu ini harus ada pernyataan tertulis. Kuatirnya disalahgunakan untuk pakan ikan atau lainnya,” ujarnya.
Suyono mengungkapkan bahwa banyaknya ular yang dievakuasi sempat membuat tim Damkarla kewalahan. Selain membutuhkan tempat penampungan yang aman, ular-ular tersebut juga harus diberi makan dan dirawat dengan baik sebelum diserahkan.
“Pernah dalam satu kandang penuh yang membuat kami kelimpungan sewaktu memberi makan, utamanya ular piton,” ungkapnya.
Selama 2024, tercatat lima kecamatan di Gresik yang paling banyak mengalami gangguan ular. Berikut data penyelamatan ular menurut kecamatan:
- Kebomas: 196 penyelamatan
- Manyar: 71 penyelamatan
- Menganti: 58 penyelamatan
- Driyorejo: 43 penyelamatan
- Gresik Kota: 43 penyelamatan
Di Januari 2025 saja, Damkarla Gresik telah melakukan 20 penyelamatan terhadap ular maupun hewan liar lainnya. Sebagian besar dari penyelamatan tersebut masih didominasi oleh ular berbagai jenis. [dny/beq]






