Bukan hanya pemangku Pondok Pesantren Lirboyo Kediri yang menyampaikan dukungan terbuka kepada pasangan Anies Rasyid Baswedan dan Muhaimin Iskandar (AMIN). Peta sebaran dukungan kepada pasangan capres-cawapres yang diusung PKB, Partai NasDem, dan PKS ini juga menyasar banyak pondok di kawasan Tapal Kuda Jatim.
Tapal Kuda membentang mulai Kabupaten dan Kota Pasuruan, Kabupaten dan Kota Probolinggo, Kabupaten Lumajang, Kabupaten Banyuwangi, Kabupaten Jember, Kabupaten Bondowoso, dan Kabupaten Lumajang. Kawasan politik ini masuk dalam tlatah kebudayaan Pendalungan. Di mana budaya Jawa, Madura, Osing, dan sejumlah nilai-nilai budaya lainnya bercampur di tlatah ini.
Secara politik praktis, partai yang dominan di kawasan ini adalah partai berpaham Islam Tradisional (NU), seperti PKB dan PPP, serta partai berpaham Nasionalis Soekarnois, seperti PDIP.
Tak hanya dari Pondok Lirboyo, pondok berpaham Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja) yang berpusat di Kota Kediri dan tempat pendidikan keagamaan banyak elite dan kiai NU, ternyata Anies-Cak Imin mendapat tempat di hati para kiai NU di kawasan Tapal Kuda. Satu di antaranya dari pimpinan Pondok Walisongo di Kabupaten Situbondo: KH Cholil As’ad Syamsul Arifin.
Ra Cholil, panggilan akrab KH Cholil As’ad Syamsul Arifin, termasuk kiai khos NU yang pertama mendorong dan memberikan dukungan kepada Cak Imin berduet dengan Anies, intelektual muslim yang pernah aktif di HMI dan pernah menjabat sebagai Rektor Universitas Paramadina Jakarta.
Dorongan dan dukungan Ra Cholil tersebut sejak tahun 2021, jauh sebelum deklarasi Cak Imin dan Anies di awal bulan September 2023. Pengaruh politik dan sosial Ra Cholil cukup dominan di kawasan Situbondo dan sekitarnya, seperti Kabupaten Bondowoso, Banyuwangi, Jember, dan empat kabupaten di Pulau Madura.
Sebagai salah satu putra KH As’ad Syamsul Arifin, sejak muda Ra Cholil bergerak dalam pendidikan dan pencerahan keagamaan umat Islam di Situbondo, yang mayoritas sebagai jemaah NU (kultural). Ra Cholil sejak muda populer di kalangan warga NU di Situbondo dan kawasan Tapal Kuda lainnya.
Pasca-reformasi 1998, pengaruh kuat Ra Cholil bukan hanya di ranah sosial keagamaan. Secara faktual, posisi dan kedudukan kiai seperti Ra Cholil menjadi kutub poros politik penting, dengan pengaruh politik kuat dan luas di massa akar rumput. Fakta demikian sungguh menarik perhatian pada politikus dan elite yang terjun di kontestasi politik elektoral.
Pada dua kali Pilpres terakhir di 2014 dan 2019, Ra Cholil dekat dengan Prabowo Subianto, Ketua Umum Partai Gerindra. Pada Pilpres 2019, duet Prabowo-Sandiaga Uno memenangkan pertarungan politik vis a vis Joko Widodo-KH Ma’ruf Amin di Kabupaten Situbondo.
Selain Ra Cholil di Situbondo, pengaruh Pondok Darussalam Blokagung di Kecamatan Tegalsari, Kabupaten Banyuwangi juga tak bisa dan tak mungkin dinafikan. Ini lembaga pendidikan komunitas Islam Tradisional (NU) terbesar di Banyuwangi. Muhaimin Iskandar (Cak Imin), Ketua Umum PKB, pada September 2023 telah bersilaturahmi ke Pondok Blokagung.
“Insya Allah (kiai dan nyai) bisa membantu pemenangan AMIN di Banyuwangi. Kami optimistis bisa meraih suara banyak di Banyuwangi,” kata bakal cawapres Cak Imin saat berkunjung ke Pondok Pesantren Darussalam Blokagung di Desa Karangdoro, Kecamatan Tegalsari, Banyuwangi, Jatim, Rabu (28/9/2023).
Saat bersilaturahmi ke Pondok Blokagung bersama Capres Anies Baswedan, Cak Imin mengutarakan ekspektasinya bahwa safari politik yang dia jalankan bersama Anies Baswedan diharapkan bisa memberikan semangat kepada para pejuang politik Ahlussunnah Wal Jamaah di Banyuwangi. “Kita harapkan makin solid,” tegas Cak Imin. Kedatangan Anies dan Cak Imin disambut Pengasuh Ponpes Darussalam Blokagung KH Hisyam Syafaat dan Ketua Umum Pesantren Hasyim Syafaat.
Dalam perspektif historis, Pondok Pesantren Darussalam Blokagung merupakan salah satu kutub penting lembaga pendidikan komunitas NU di Jatim. Pondok Blokagung punya pengaruh kuat di kawasan Timur Provinsi Jatim. Di kawasan ini selain Pondok Blokagung, ada sejumlah pondok lain dengan pengaruh signifikan, seperti Pondok Sidogiri di Kabupaten Pasuruan, Pondok Nurul Jadid dan Pondok Genggong di Kabupaten Probolinggo, Pondok Walisongo dan Pondok Salafiyah Syafi’iyah di Asembagus Kabupaten Situbondo, dan sejumlah pondok lainnya.

KH Mukhtar Syafa’at Abdul Ghofur adalah tokoh pendiri Pondok Blokagung. Kiai ini berasal dari Plosoklaten, Kabupaten Kediri, Jatim. Kiai Mukhtar Syafa’at setelah menyelesaikan pendidikan umum, lalu meneruskan pendidikan di Pondok Tebuireng Jombang dan Pondok Jalen di Kecamatan Genteng, Banyuwangi. Selama 23 tahun lamanya Kiai Mukhtar nyantri di kedua pondok tersebut.
Kuatnya pengaruh nilai-nilai ajaran NU tak mungkin dilepaskan dari banyaknya lembaga pendidikan pondok pesantren yang tersebar merata di berbagai wilayah Jatim. Di semua kawasan Jatim terdapat pondok pesantren yang memiliki pengaruh nilai-nilai religius, sosial, kultural, dan politik yang kuat.
Misalnya, di kawasan barat Jatim, seperti Kabupaten Gresik, Lamongan, Tuban, dan Bojonegoro pengaruh kuat Pondok Sunan Drajat di Lamongan dan Pondok Langitan di Widang, Kabupaten Tuban adalah fakta sosiologis yang sulit dibantah.
Selanjutnya di kawasan tengah dan selatan Jatim, empat pondok tua di Kabupaten Jombang: Pondok Tebuireng, Pondok Tambakberas, Pondok Darul Ulum Rejoso, dan Pondok Mambaul Ma’arif Denanyar menjadi rujukan banyak santri NU menimba ilmu agama dan mengasah potensi kapasitas kepemimpinan mereka.
Selain itu, di kawasan selatan dan tengah Jatim, Pondok Lirboyo di Kota Kediri dan Pondok Ploso di Kecamatan Mojo Kabupaten Kediri menjadi ‘akademi’ agama Islam yang mumpuni bagi kaum muda Islam Tradisional dari seluruh Indonesia untuk mempelajari banyak referensi Kitab Kuning dan banyak buku referensi lain yang berkaitan dengan ajaran Aswaja.
Sedang di Pulau Madura setidaknya ada enam pondok komunitas Islam Tradisional yang berskala besar, memiliki pengaruh sosial dan politik kuat, serta eksistensinya mampu bertahan di tengah dinamika perubahan sosial, ekonomi, dan politik nasional.
Keenam pondok itu adalah Pondok Pesantren Al Amien Prenduan di Kabupaten Sumenep, Pondok Annuqayah di Guluk-Guluk Kabupaten Sumenep, Pondok Mambaul Ulum di Bata-Bata Kabupaten Pamekasan, Pondok Banyuanyar di Kabupaten Pamekasan, Pondok Nurul Cholil di Kabupaten Bangkalan, dan Pondok Syaichona Moh.Cholil di Kabupaten Bangkalan. Pondok Syaichona Cholil berdiri pada 1861 oleh Syaichona Cholil. Dia dikenal sebagai mahaguru para ulama Indonesia. Bahkan pendiri NU yakni KH Hasyim Asy’ari adalah salah satu murid Kiai Cholil.
Dalam konteks Pilpres 2024, memperebutkan suara kaum Nahdliyyin merupakan ikhtiar melakukan approach kepada pemangku pondok atau kiai. Sebab, kiai NU di lingkungan sosial yang melingkupi mereka adalah patron dan sumber referensi dalam ruang lingkup nilai-nilai religius, sosial, kultural, dan politik yang pengaruhnya kental, kuat, dan dinilai presisi oleh jemaahnya.
Antar-kiai NU pemangku pondok pesantren terbuka peluang memiliki sikap dan pilihan politik berbeda. Di ranah politik praktis, realitas seperti itu bukan faktor strategis yang bisa meruntuhkan sendi-sendi jam’iyyah (organisasi NU) dan mengancam integrasi organisasi secara keseluruhan.
Bagi kiai yang memangku dan memimpin pondok besar, seperti Pondok Lirboyo, Pondok Ploso, Pondok Langitan, Pondok Sidogiri, Pondok Salafiyah Syafi’iyah Situbondo, Pondok Blokagung, dan banyak pondok pesantren lain, jejaring dan relasi personal antara kiai di pondok induk dengan mantan santrinya (alumni) terus terjalin dan terajut kuat serta berkesinambungan. Dalam konteks demikian, perspektif paradigma jejaring politik bisa memetakan dan menjelaskan peta pengaruh pondok dan kiai pemangkunya secara tepat dan akuntabel. [air]
Ainur Rohim,
Penanggung Jawab beritajatim.com






