Malang (beritajatim.com) — Universitas Brawijaya (UB) kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu perguruan tinggi terkemuka di Indonesia dalam peringatan Dies Natalis ke-63. Puncak peringatan ditandai dengan Sidang Pleno Terbuka Majelis Wali Amanat (MWA) yang digelar pada Senin (5/1/2026) di Gedung Samantha Krida UB.
Mengusung tema “Tumbuh Berdaya, Berdampak Nyata”, sidang pleno tidak hanya menjadi perayaan seremonial, tetapi berkembang menjadi forum diskusi strategis yang mempertemukan tantangan global dunia kerja dengan respons konkret institusi pendidikan tinggi.
Hadir sebagai narasumber utama, Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia Prof. Ir. Yassierli, S.T., M.T., Ph.D. menyampaikan orasi ilmiah bertajuk “Transformasi Pasar Kerja Indonesia: Peran Perguruan Tinggi dalam Optimalisasi Penyerapan Tenaga Kerja Profesional”. Dalam paparannya, Menaker menekankan urgensi adaptasi perguruan tinggi terhadap disrupsi teknologi yang berpotensi mengancam jutaan lulusan sarjana.
Mengutip data Sakernas BPS Februari 2025, Prof. Yassierli menyoroti fenomena ironis tingginya pengangguran di kelompok terdidik.
“Tingkat pengangguran lulusan SMK mencapai 8,0 persen, sementara lulusan universitas berada di angka 6,2 persen. Ini artinya, ada sekitar 1 juta orang lulusan perguruan tinggi yang saat ini tidak terserap pasar kerja,” ungkap Prof. Yassierli.
Menurutnya, dunia kerja saat ini tengah mengalami triple disruption global, yakni percepatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan digitalisasi, transisi menuju ekonomi hijau, serta perubahan struktur demografi. Ia merujuk laporan World Economic Forum 2025 yang memprediksi sekitar 92 juta pekerjaan konvensional akan hilang atau tergantikan otomatisasi pada 2030.
Namun di sisi lain, terbuka peluang 170 juta pekerjaan baru dengan tuntutan keterampilan yang sama sekali berbeda dari kurikulum tradisional perguruan tinggi.
“Fakta di lapangan menunjukkan perubahan drastis dalam pola rekrutmen. Sebanyak 69 persen pemimpin perusahaan di Indonesia menyatakan secara tegas tidak akan merekrut kandidat tanpa keterampilan AI,” tegasnya.
Kondisi tersebut menandai pergeseran paradigma rekrutmen dari degree-based hiring ke skills-based hiring, di mana ijazah tidak lagi menjadi satu-satunya tolok ukur kesiapan kerja.

Meski demikian, Prof. Yassierli menegaskan bahwa human skills tetap menjadi keunggulan utama lulusan universitas. Teknologi, menurutnya, diciptakan untuk mengaugmentasi produktivitas manusia, bukan menggantikannya secara total.
“Delapan dari sebelas keterampilan inti yang paling dibutuhkan pada tahun 2030 adalah human skills. Kemampuan seperti berpikir kreatif, empati, kepemimpinan, dan rasa ingin tahu yang tinggi tidak bisa direplikasi oleh algoritma manapun,” paparnya.
Ia mendorong perguruan tinggi, termasuk UB, untuk menanamkan growth mindset kepada mahasiswa, yakni keyakinan bahwa kecerdasan dan karakter dapat terus dikembangkan melalui pembelajaran berkelanjutan.
Menutup orasinya, Menaker menyampaikan tiga rekomendasi strategis bagi UB. Pertama, lulusan harus memiliki kompetensi terukur berupa portofolio dan micro-credential. Kedua, integrasi human skills dalam kurikulum secara sistematis. Ketiga, penguatan jembatan kampus–industri melalui co-design curriculum agar tidak terjadi kesenjangan antara dunia akademik dan kebutuhan pasar kerja.
Merespons tantangan tersebut, Rektor UB Prof. Widodo menegaskan bahwa UB telah menyiapkan langkah strategis untuk memperkuat transformasi menuju World Class University. Fokus pengembangan tahun 2026 diarahkan pada optimalisasi aset dan ekspansi layanan akademik melalui pembangunan fisik di luar kampus utama.
“Perencanaan dan implementasi pembangunan tahun 2026 diarahkan untuk memperkuat transformasi UB menuju institusi unggul. Fokus utama kami adalah pengembangan kampus satelit, yaitu pembangunan Gedung A Vokasi Kampus UB Kepanjen dan Gedung Kuliah IV Kampus UB Kediri,” jelas Prof. Widodo.
Di Desa Mangunrejo, Kepanjen, Kabupaten Malang, UB akan mengembangkan Kampus Satelit UB Kepanjen di atas lahan seluas 29,1188 hektare. Kawasan ini dirancang sebagai ekosistem pendidikan modern yang terintegrasi dengan kebutuhan industri.
“Pembangunan Kampus Satelit UB Kepanjen diarahkan sebagai bagian dari strategi besar transformasi institusi berbasis pendidikan vokasi, riset terapan, dan penguatan peran kawasan,” tambahnya.
Kawasan tersebut akan dilengkapi laboratorium terapan, pusat inovasi, serta area pendukung industri dan kewirausahaan. Selain meningkatkan akses pendidikan tinggi, proyek ini juga ditujukan untuk mendorong Revenue Generating Activity (RGA) universitas dan kemandirian finansial UB.
Di luar agenda akademik dan strategis, peringatan Dies Natalis ke-63 UB juga menampilkan nuansa sosial budaya. Ketua Panitia Dies Natalis Prof. Dr. Hamidah Nayati Utami, S.Sos., M.Si. menyebut konsep perayaan tahun ini dirancang lebih membumi.
“Tahun ini yang berbeda, kita mengangkat kegiatan sosial budaya seperti Nguri-nguri Pawon dan Kenduri. Ini adalah upaya kita untuk tetap membumi dan merawat nilai-nilai luhur di tengah ambisi global kita,” ujarnya.
Rangkaian Dies Natalis mencakup 16 kegiatan yang meliputi sektor akademik, seni budaya, lingkungan, hingga internasionalisasi. Pada momentum tersebut, UB juga menganugerahkan UB Lifetime Achievement kepada dosen dan peneliti berprestasi.
Kategori Pejuang Kemanusiaan diberikan kepada dr. Aurick Yudha Nagara, Sp.EM, KPEC, FICEP; Dr. dr. Mohammad Kuntadi Syamsul Hidayat, M.Kes., Sp.OT; dan Dr. dr. Ristiawan Muji Laksono, Sp.An-TI, Subsp.M.N.(K), FIPP.
Kategori Peneliti Bereputasi Internasional diberikan kepada Prof. Dr. Sujarwoto, S.IP., M.Si., M.P.A. dan Dr. Holipah, Ph.D.
Kategori Pengembangan Pengetahuan dianugerahkan kepada Prof. Dr. Ir. Femiana Gapsari, M.F., S.T., M.T.
Kategori Inovasi dan Hilirisasi Riset diberikan kepada Prof. Ir. Arifin Noor Sugiharto, M.Sc., Ph.D.
Sidang Pleno Terbuka ditutup dengan orasi ilmiah Prof. Dr. Sujarwoto bertajuk “Melayani untuk Negeri: Transformasi Pelayanan Publik Menuju Indonesia Adil dan Makmur”. [dan/beq]






