Bandung (beritajatim.com) – Di tengah gempuran modernisasi, seorang lulusan teknik bernama Agung Dwi Pratama memilih jalan yang berbeda. Ia memutuskan untuk menjadi sosiopreneur di sebuah desa di Toili, Banggai Sulawesi Tengah.
Dirinya rela mengabdikan dirinya untuk membantu para peternak di desanya dengan memanfaatkan sampah organik menjadi protein pakan ternak melalui budidaya maggot BSF (Black Soldier Fly).
Perjalanan Agung dimulai pada tahun 2018 ketika ia melihat kesulitan yang dihadapi para peternak dalam memenuhi kebutuhan protein pakan ternak.
“Harga pakan kosentrat 1 sak, Rp860 ribu sementara ayam kampung saat di panen harga per ekor Rp40 ribu sampai Rp45 ribu. Jelas kasihan peternaknya. Akhirnya saya berupaya mencari alternatif pakan yang berprotein tinggi dan bertemu dengan maggot BSF ini,” jelas Agung yang berasal dari Kota Palu itu.
Harga konsentrat yang tinggi dan keterbatasan akses menjadi kendala utama bagi mereka. Tergerak oleh kepeduliannya, Agung pun mencari solusi yang inovatif dan berkelanjutan.
Ia terinspirasi dari penelitian yang menunjukkan potensi maggot BSF sebagai sumber protein yang kaya dan murah. Dengan tekad bulat, Agung memulai budidaya maggot BSF di desanya, Sentral Timur, Kecamatan Toili.
Awalnya, perjalanan Agung tidak mudah. Ia harus menghadapi penolakan dari orang tua dan istrinya yang mempertanyakan pilihannya untuk meninggalkan dunia teknik dan fokus pada sampah. Namun, Agung tidak patah semangat. Ia yakin dengan potensinya dan terus berinovasi untuk mengembangkan usahanya.
“Tahun 2021, Agung berhasil mengumpulkan 10 petani untuk membangun kandang maggot bersama-sama. Sayangnya, takdir berkata lain. Kandang yang baru saja dibangun runtuh akibat banjir yang melanda,” paparnya.
Kejadian ini menjadi pukulan telak bagi Agung dan para petani. Namun, Agung tidak menyerah. Ia bangkit kembali dan mulai mencari bantuan ke berbagai pihak, termasuk pemerintah dan sayangnya, usahanya tidak membuahkan hasil.
Setelah hampir menyerah permohonannya dijawab oleh Subholding Upstream Pertamina Regional 4. Bak gayung bersambut kandang mereka pun diperbaiki oleh Pertamina Regional 4 dan akhirnya berlanjut hingga dirinya mendapat berbagai bantuan program pelatihan dan peralatan.
“Setelah infrastruktur tertangani, kini masalah baru muncul lagi yakni kurangnya peranan warga,” kenangnya.
Di tengah situasi yang sulit ini, Agung tidak gentar. Ia justru melihatnya sebagai peluang untuk mengembangkan usaha maggot dengan cara yang lebih berkelanjutan. Ia mulai menggerakkan peran perempuan dalam budidaya maggot dan melakukan edukasi ke sekolah-sekolah tentang pengolahan sampah organik.
Kegigihan dan tekad Agung akhirnya membuahkan hasil. Usahanya berkembang pesat dan menjadi sumber penghasilan bagi banyak orang di desanya. Ia berhasil mengubah sampah menjadi peluang dan membantu para petani meningkatkan pendapatan mereka.
Kisah inspiratif Agung Dwi Pratama adalah bukti bahwa dengan kegigihan, tekad, dan inovasi, kita dapat mengubah nasib dan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat. Ia telah menunjukkan bahwa sampah bukan hanya masalah, tetapi juga bisa menjadi sumber daya yang bermanfaat. [rea/ian]






