Di antara kerumunan, senyum warga terlihat saat mendapatkan beras, telur, hingga minyak goreng dengan harga di bawah pasaran. Bagi banyak keluarga, momen ini menjadi angin saat Ramadan 1447 Hijriah, ketika kebutuhan rumah tangga biasanya meningkat.
Program yang diinisiasi Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian bersama Dinas Perdagangan, Koperasi, dan UKM Pemkab Bojonegoro ini memang dirancang untuk menjaga daya beli masyarakat.
Selain beras SPHP, tersedia pula gula pasir, bawang merah, bawang putih, cabai, hingga tomat—komoditas yang paling sering dicari menjelang puasa.
Kehangatan suasana semakin terasa ketika Bupati Setyo Wahono dan Wakil Bupati Nurul Azizah tiba di lokasi. Keduanya menyempatkan diri menyapa warga satu per satu setelah meninjau bazar UMKM Bahagia, seolah menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar agenda formal, melainkan ruang bertemu langsung dengan masyarakat.
Bupati Setyo Wahono mengajak warga menjadikan Ramadan sebagai waktu memperkuat kepedulian sosial.
“Ramadan adalah momentum untuk saling berbagi dan mempererat kebersamaan. Kami ingin masyarakat bisa menjalani bulan suci dengan tenang karena kebutuhan pokok tetap terjangkau,” ujarnya.
Tak hanya soal pangan, Safari Ramadan juga menghadirkan nuansa kebersamaan melalui santunan anak yatim dan dhuafa, tausiyah, serta buka puasa bersama. Agenda tahunan ini menjadi ruang silaturahmi antara pemerintah, tokoh agama, dan masyarakat.
Sementara Kepala Desa Sumuragung Mashadi menilai kehadiran pemerintah melalui berbagai program sudah terasa dampaknya di tingkat desa. Salah satunya pembangunan jembatan penghubung Sumuragung–Kedungbondo lewat program Bantuan Keuangan Khusus Desa (BKKD) yang mempermudah aktivitas warga.
Menjelang siang, antrean mulai berkurang, tetapi suasana hangat masih terasa. Warga pulang membawa bahan pangan sekaligus rasa optimisme. Bagi mereka, Gerakan Pangan Murah bukan hanya soal harga, tetapi tentang perhatian—bahwa menjelang Ramadan, mereka tidak berjalan sendiri. [lus/aje]






