Sidoarjo (beritajatim.com) – Babak 12 besar Liga 2 menjadi babak yang cukup menuai banyak tantangan bagi Deltras FC. Tim asal Sidoarjo ini harus menghadapi klub-klub besar, bahkan dua kali mereka merasa dirugikan oleh keputusan wasit.
Pada pertandingan melawan Bekasi City, Deltras seharusnya mendapatkan hadiah penalti setelah pemainnya dilanggar di dalam kotak penalti. Namun, wasit tidak menganggap pelanggaran tersebut layak mendapatkan hadiah penalti.
Yang kedua, Deltras ditahan imbang 1-1 oleh Maluku United di laga kandang. Pada menit akhir pertandingan, Deltras masih memiliki waktu tambahan untuk melakukan pergantian pemain. Namun, wasit malah meniupkan peluit panjang lebih awal, sehingga Deltras gagal melakukan pergantian pemain.
Kecewa dengan keputusan wasit, pelatih Deltras, Widodo Cahyono Putro, mengatakan bahwa keputusan tersebut merugikan kedua belah pihak.
“Keputusan wasit selalu merugikan kedua belah pihak, keputusan yang tidak bisa diterima semua pemain ini yang membuat emosional dan ini yang membuat pertandingan tidak enak dilihat,” kata Widodo.
Widodo juga mengatakan bahwa keputusan wasit yang merugikan seperti ini yang membuat para suporter berontak.
“Permainan yang tidak enak dilihiat ini yang memicu keributan, mendelay pemain disaat kita menyerang tapi pluit diberikan wasit tapi itulah sepak bola kita tidak tahu apa yang terjadi,” imbuhnya.
Dengan kondisi saat ini, Widodo berharap para pemainnya tidak berkecil hati untuk berjuang di pertandingan berikutnya melawan Persela Lamongan.
“Saya berharap pemain jangan berkecil hati karena sepak bola itu tidak bisa dipastikan seperti matematika kita tidak tahu kedepannya lawan Persela Lamongan bisa menang atau kalah,” kata Widodo.
Widodo juga berharap para pemainnya tidak putus harapan.
“Kalau tidak mau begitu tidak usah nermain karena pertandingan ketiga pemain harus lebih fight dan menang lawan Persela Lamongan,” tegasnya. [way/beq]






