Surabaya (beritajatim.com) – Pada era sepak bola di masa lalu, seorang deep lying playmaker merupakan salah satu posisi bermain yang fenomenal dengan kemampuan umpannya yang cukup sempurna. Dalam umpan pendek maupun umpan panjang punya kemampuan yang sama baik.
Dengan begitu, pasti dibutuhkan seorang pemain yang memiliki karakter permainan kuat untuk bisa menjadi seorang Deep Lying Playmaker. Namun, pada posisi tersebut bisa dikatakan dalam ambang kepunahan yang disebabkan oleh beberapa alasan. Terutama karena banyak terjadi perkembangan dalam sepak bola belakangan ini.
Deep lying playmaker sendiri adalah seorang pemain ditugaskan untuk mengatur ritme dan tempo permainan, serta juga punya tanggung jawab dalam membuka ruang permainan guna bisa mencetak gol.
Terkadang, para pemain ini hanya berlari-lari kecil saja di wilayah lapangan tengah, agar bisa menjadi jembatan antara lini belakang dan lini tengah. Secara lebih rinci berikut ini tugas deep lying playmaker.
1. Perkembangan Strategi
Nyatanya, seorang Deep Lying Playmaker memang mulai ditinggalkan karena perkembangan strategi di era sepak bola modern. Lebih tepatnya, strategi yang dimainkan klub papan atas Eropa saat ini telah beralih dengan lebih mengandalkan sepak bola cepat, lalu memanfaatkan serangan balik, hingga juga memaksimalkan sektor sayap.
Hal tersebut tentu membuat peran seorang Deep Lying Playmaker perlahan mulai terpinggirkan, sebab memang lebih cocok untuk bermain dengan tim yang mengandalkan permainan bola-bola pendek.
2. Kalah bersaing
Masih serupa dengan alasan yang telah dibahas sebelumnya, perkembangan strategi juga menyebabkan posisi Deep Lying Playmaker mulai tergantikan dengan posisi pemain generasi baru. Para pemain yang punya karakter sebagai gelandang perusak, gelandang sayap, ataupun gelandang dengan tipe box-to-box cenderung lebih dibutuhkan.
Sedangkan gelandang dengan kemampuan sebagai Deep Lying Playmaker semakin jarang digunakan. Hal ini lebih ke pemilihan strategi yang mulai kurang mengakomodir kehadiran gelandang tersebut.
Pada masa jayanya era deep lying playmaker, dunia sepakbola pernah mendapati dalam sosok Xabi Alonso, Xavi Hernandez, Paul Scholes, hingga Andrea Pirlo. Namun, semua pemain itu kini telah masuk usia senja, bahkan ada yang sudah gantung sepatu dan menjabat sebagai pelatih. [dan/tur]






