Bojonegoro (beritajatim.com) – Ketinggian muka air (TMA) Sungai Bengawan Solo di wilayah Bojonegoro terpantau mengalami kenaikan pada Kamis (5/3/2026). Berdasarkan data Perusahaan Umum Jasa Tirta Divisi Jasa Asa III Bengawan Solo, status sungai saat ini berada pada level Siaga 1 (Hijau) dengan tren naik.
Petugas ukur Perum Jasa Tirta Asa III Bengawan Solo di Taman Bengawan Solo (TBS) Bojonegoro, Ali Santoso, melaporkan bahwa kenaikan terjadi sejak pagi hingga siang hari.
Di papan ukur Karangnongko, ketinggian air tercatat 26,67 peilschaal pada pukul 06.00 WIB, kemudian naik menjadi 27,00 peilschaal pada pukul 10.00 WIB, dan kembali meningkat ke angka 27,19 peilschaal pada pukul 13.00 WIB.
Sementara itu, di papan ukur Bojonegoro, TMA tercatat 12,05 peilschaal pada pukul 06.00 WIB, naik menjadi 12,33 peilschaal pada pukul 10.00 WIB, dan mencapai 12,35 peilschaal pada pukul 13.00 WIB.
“Posisi saat ini masih Siaga 1 Hijau dengan tren naik,” ujar Ali Santoso, Kamis (5/3/2026).
Sebagai informasi, ambang batas status di Karangnongko meliputi Siaga 1 pada ketinggian 29,00 peilschaal, Siaga 2 di angka 29,50 peilschaal, dan Siaga 3 di angka 30,00 peilschaal. Sedangkan di Bojonegoro, Siaga 1 berada di angka 12,06 peilschaal, Siaga 2 pada 13,06 peilschaal, dan Siaga 3 di 14,04 peilschaal.
Kenaikan debit air di Bojonegoro dipicu oleh bukaan pintu air di Waduk Gajah Mungkur yang berada di wilayah hulu. Penambahan suplai air dari hulu tersebut berdampak langsung pada peningkatan volume aliran di hilir, termasuk kawasan Bojonegoro.
Pantauan di lapangan menunjukkan aliran Bengawan Solo tampak mengalir deras dengan warna air kecoklatan, menandakan tingginya kandungan sedimen yang terbawa arus. Kondisi ini lazim terjadi saat debit meningkat, terutama setelah adanya tambahan kiriman air dari hulu.
Meski masih dalam kategori Siaga 1 Hijau, masyarakat di sepanjang bantaran sungai diimbau tetap waspada terhadap potensi kenaikan lanjutan, mengingat tren air masih menunjukkan grafik meningkat hingga siang hari. [lus/beq]






