Bondowoso, (beritajatim.com) – Realisasi penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) Kabupaten Bondowoso hingga 30 Juni 2026 mencapai Rp3,54 miliar atau 20,24 persen dari total baku ketetapan sebesar Rp17,51 miliar.
Dari 23 kecamatan, Kecamatan Klabang masih memimpin dengan capaian 64 persen, sementara Kecamatan Jambesari berhasil mencuri perhatian setelah melonjak ke posisi tiga besar dengan realisasi 31 persen.
Data Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Bondowoso mencatat hingga akhir Juni terdapat lima desa yang telah melunasi PBB. Secara umum, tiga besar capaian realisasi ditempati Kecamatan Klabang (64 persen), Curahdami (31 persen), dan Jambesari (31 persen).
Kepala Bapenda Bondowoso, Slamet Yantoko, mengatakan peningkatan realisasi PBB tidak lepas dari sinergi antara Bapenda, camat, kepala desa, hingga perbankan dalam mempercepat pemutakhiran data dan pembayaran pajak.
“Alhamdulillah, kami bersama camat dan kepala desa terus bergerak meningkatkan proses pemutakhiran data. Bapenda siap turun membantu melalui program Pelita Pajak, yaitu Pekan Layanan dan Pemutakhiran Pajak di kecamatan bahkan sampai tingkat desa,” ujarnya.
Menurut Slamet, sejak SPPT yang dilengkapi kode QRIS diedarkan pada akhir April lalu, sejumlah kecamatan mulai menunjukkan tren kenaikan realisasi. Selain Klabang yang tetap bertahan di posisi teratas, Jambesari mengalami lonjakan signifikan, Grujugan mulai keluar dari kelompok bawah, sedangkan Curahdami terus meningkatkan penagihan, termasuk kepada sejumlah perusahaan perumahan yang masih memiliki tunggakan PBB.
[irp posts=”1525873″ ]
Di Kecamatan Bondowoso, Bapenda juga menjalankan program Sambang Kelurahan untuk mempercepat pemutakhiran data sekaligus memastikan SPPT diterima langsung oleh wajib pajak. Bersama perbankan, Bapenda juga terus mendorong masyarakat memanfaatkan pembayaran digital melalui QRIS yang telah tercantum pada SPPT.
Sementara itu, Camat Jambesari, Soehari, mengungkapkan keberhasilan wilayahnya menembus tiga besar berawal dari pendekatan sosial yang dilakukan kepada seluruh kepala desa.
“Tahun lalu realisasi PBB Jambesari masih berada di peringkat bawah. Sekarang bisa masuk tiga besar karena kami mengedepankan pendekatan sosial kepada masyarakat,” katanya.
Ia menjelaskan, langkah pertama yang dilakukan adalah mengumpulkan seluruh kepala desa di Kecamatan Jambesari. Dalam pertemuan itu, kepala desa dengan capaian PBB terbaik diminta berbagi pengalaman dan strategi kepada kepala desa lainnya.
Selain itu, Soehari menggagas program Ngopi Cerdas, yakni berkeliling ke seluruh desa dengan mendatangi langsung rumah para kepala desa, bukan hanya berkegiatan di kantor desa.
“Saya datang ke rumah sembilan kepala desa se-Kecamatan Jambesari. Dari komunikasi yang lebih cair itu, semangat para kepala desa untuk menyosialisasikan pentingnya membayar PBB kepada masyarakat semakin meningkat. Pendekatan ini terbukti efektif mendorong kenaikan realisasi PBB,” pungkasnya. (awi/aje)






