Surabaya (beritajatim.com) – Selama dua dekade terakhir, nama Pengki Irawan telah menjadi ikon gaya hidup sehat di Surabaya dan Jawa Timur. Dengan dedikasi dan semangat tak pernah luntur, Pengki membuktikan bahwa kesuksesan sejati diukur dari kontribusi bermakna dalam membantu orang lain mencapai hidup seimbang dan lebih sehat.
Kisah perjalanan Pengki, dari titik terendah hingga menjadi motivator dan pebisnis di industri kebugaran, adalah refleksi nyata dari kesabaran, kesadaran, kerja keras, dan ketekunan.
Berbekal latar belakang sederhana dan lulusan SMK, Pengki memulai semuanya dari nol. Ia mengenang awal tahun 2000-an, ketika hidupnya begitu sulit hingga pernah ditampung oleh pengurus gereja.
“Dulu saya bukan siapa-siapa, tidak punya apa-apa. Hidup saya sangat sulit, begitu sulit hingga saya pernah ditampung oleh pengurus gereja untuk tinggal di sana. Sebelumnya, saya sudah mencoba berbagai usaha, mulai dari berjualan kerupuk hingga bekerja bersama teman, tapi tetap saja saya tidak punya apa-apa,” kenang Pengki.
Kesadaran akan perlunya mengubah nasib muncul saat ia menjalani hidup sederhana di gereja.
“Saya sadar posisi saya. Terus-menerus menerima bantuan atau donasi dari orang lain menumbuhkan kesadaran spiritual yang positif dalam diri saya. Saya sadar tidak ingin selamanya hidup di penampungan atau bergantung pada bantuan. Maka, saya memberanikan diri menyampaikan ke komunitas gereja bahwa saya ingin mencari penghasilan tambahan,” jelasnya.
Langkah pertamanya keluar dari zona nyaman adalah mengambil pekerjaan sampingan sebagai sopir taksi dan bekerja di bidang penjualan iklan. Titik baliknya datang ketika ia menemukan peluang di Herbalife, sebuah perusahaan penjualan langsung suplemen kesehatan asal Amerika.
“Yang menarik perhatian saya adalah jaminan. Jaminan uang kembali sesuai Herbalife Gold Standard jika saya tidak mampu menjalankan,” cerita Pengki. Pada tahun 2003, dengan modal awal sederhana, ia resmi menjadi bagian dari Herbalife.
Pengki mempelajari panduan Herbalife tentang cara berkomunikasi dan membangun koneksi efektif dengan calon klien, terutama dengan menyentuh emosi mereka terkait penurunan berat badan. Menurutnya, mempromosikan produk nutrisi dan mengajak orang lain menurunkan berat badan adalah tantangan sekaligus seni.
“Ini soft skill. Kita bertemu orang, mulai dengan perkenalan yang sopan, lalu bertanya hal-hal dasar seperti, ‘Pernah terpikir ingin menurunkan berat badan?’ Lalu, secara perlahan melibatkan anggota keluarga dalam percakapan untuk menginspirasi mereka memperbaiki kesehatan secara alami dengan menjalani hidup berkualitas bersama orang tercinta,” jelasnya. Pendekatan motivasi gaya hidup sehat secara emosional inilah yang menjadi kunci kesuksesannya.
Meskipun menghadapi penolakan, Pengki tidak menyerah. “Sisi tidak enaknya, ada yang mengira saya mengajak menurunkan berat badan untuk menghina, padahal bukan itu maksud saya.Saat itu, saya menatap mata mereka dengan lembut dan berkata, ‘Saya hanya ingin membantu Ada jaminan, kalau tidak berhasil, uang kembali,” kenangnya. Pengalaman ini justru menguatkan tekadnya untuk terus berjuang.
“Menurut saya, kita harus bertanya pada diri sendiri: Hidup seperti apa yang sedang kita jalani. Jika kita menyingkirkan rasa gengsi, kita bisa memperbaiki hidup dengan mengadopsi gaya hidup sehat. Tugas kita bukan hanya menginspirasi orang untuk sehat, tapi juga memperbaiki kondisi ekonomi mereka,” ujarnya memotivasi.
Dengan konsistensi selama puluhan tahun di Herbalife, Pengki kini menjalankan bisnis sendiri sambil terus mendukung komunitas kebugaran Surabaya.
“Selain memimpin dua komunitas Herbalife di Jawa Timur dan Surabaya, saya juga memimpin Nutrition Club (NC) sendiri,” katanya. Komunitas yang ia pimpin kini memiliki ribuan anggota di Jawa Timur, Bekasi, dan Bengkulu, menunjukkan dampak besar dari pemberdayaan komunitas yang ia bangun.
“Bagi mereka yang baru memulai perjalanan kebugaran, kami selalu menawarkan edukasi nutrisi, olahraga bersama, dan peluang bisnis. Saya paling bahagia ketika bisa membantu seseorang menjadi lebih sehat dan mengalami transformasi ekonomi yang luar biasa. Di situlah letak kepuasan saya berhasil bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk banyak orang lain,” pungkas Pengki.[rea]






