Mojokerto (beritajatim.com) – Kabupaten Mojokerto menaruh harapan besar pada sosok pelatih muda yang akan bertanggungjawab pada tim sepak bola putra dalam ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur 2025 di Malang Raya. Ia adalah Zaenal Fanani, pria kelahiran Mojokerto 7 Oktober 1992, yang telah malang melintang di dunia sepak bola sejak usia belia.
Tinggal di Dusun Meduran, Desa Awang-awang, Kecamatan Mojosari, Zaenal bukan nama baru di jagat sepak bola lokal. Sempat belajar bola dengan pelatih kampung hingga belajar sendiri, ia kemudian bergabung dengan Sekolah Sepak Bola (SSB) Gajahmada. Bersama pemain satu tim dan pelatih SSB Gajahmada, ia kemudian melangkah ke tim internal Persebaya.
Tahun 2006, ia memperkuat tim internal Persebaya untuk berlaga di Piala Bambang DH. Ia kemudian bergabung bersama Persatu Tuban Junior pada 2007 dalam ajang Piala Soeratin U17 Tuban. Selanjutnya, ia memperkuat tim-tim junior ternama seperti Persebaya Junior U18 (2008–2009), lalu naik ke Persebaya U2 dan Persisam U21.
Bahkan memperkuat kontingen Kalimantan Timur (Kaltim) dalam ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) 2012 lalu dan berhasil meraih medali emas. Puncak karier pemainnya dilalui bersama sejumlah klub profesional seperti Persekap Kota Pasuruan, PSMP Mojokerto, dan PSBK Kota Blitar hingga tahun 2017. Namun cedera yang dialaminya menjadi titik balik hidupnya.
“Waktu cedera dulu, saya hampir putus asa. Tapi ada satu sosok yang terus mendorong saya agar tetap di dunia bola, yakni Bapak Sigit Eko P. Beliau pelatih SSB yang sangat berjasa bagi saya. Beliaulah yang pertama kali membawa saya ke Surabaya, dan beliaulah yang menyarankan saya untuk menempuh sekolah kepelatihan 2019,” kenangnya, Senin (9/6/2025).
Berbekal semangat dan dukungan sang mentor, Zaenal kemudian mengembangkan karier sebagai pelatih. Ia memulai dari Majapahit Soccer Academy usia dini, lalu menjadi asisten pelatih tim Sahadewa Galapagos United (Liga 3 Bali) tahun 2021. Namanya semakin diperhitungkan di Mojokerto saat menjadi asisten pelatih tim Porprov Kabupaten Mojokerto pada 2023 dan Popda 2024.
Tahun ini, ia juga dipercaya mendampingi tim Mojosari Putra di kompetisi Liga 4 Jawa Timur, dan dipercaya penuh memimpin tim Porprov 2025 mendatang. Zaenal merupakan anak kedua dari dua bersaudara. Ia kehilangan ayahnya, M. Ali (Alm), saat masih usia remaja pada 2003. Sang ayah lah yang menjadikan mengeluti lapangan hijau.
“Main bola memang hobby dari kecil tapi saya menjadi pemain bola karena alm ayah saya, beliau yang menginginkan saya menjadi pemain bola. Itu saya tahu setelah beliau meninggal 2003 lalu dan menitipkan ke pelatih di kampung saya, Cak Malik. Saya kemudian mulai berlatih, namun cedera dua kali membuat saya tidak bisa bermain bola sehingga saya lanjutkan pendidikan pelatih,” katanya.
Kini, ia telah berkeluarga dengan Naufatul Mustaqfiroh dan dikaruniai seorang putri, Nella Anggun Putri, yang kini berusia 7 tahun. Dengan pengalaman panjang dan jiwa kepelatihan yang terus diasah, Zaenal Fanani kini bukan hanya menjadi harapan Mojokerto di Porprov Jatim 2025, tapi juga inspirasi bagi generasi muda di kampung halamannya.
“Saya sempat kaget dipercaya sebagai pelatih di Porprov Jatim 2025 oleh Ketua Askab Kabupaten Mojokerto. Karena kesempatan itu tidak datang dua kali sehingga saya bersedia menjadi Head Coach, padahal masih banyak pelatih senior di Mojokerto tapi mempercayakan kepada pelatih muda. Harapannya bisa membawa prestasi, ini sebagai semangat dan motivasi saya” tegasnya.
Ia berharap kedepannya bisa berprestasi lagi di dunia kepelatihan. Perjalanan hidupnya adalah bukti bahwa mimpi seorang ayah bisa tumbuh dalam tekad sang anak. Dan dari Dusun Meduran yang sederhana, Zaenal Fanani membuktikan bahwa lapangan hijau bisa menjadi panggung untuk mewujudkan harapan, bukan hanya bagi dirinya, tapi juga untuk Mojokerto. [tin/aje]






