Banyuwangi (beritajatim.com) – Di balik hamparan sawah hijau Desa Siliragung, Banyuwangi, terdapat kisah inspiratif tentang sekelompok anak muda yang mengubah sampah menjadi berkah.
Berawal dari kegelisahan melihat sungai tercemar sampah, komunitas Pemuda Etan Gladak Anyar (PEGA) Indonesia bertransformasi menjadi pionir pengolahan sampah organik dengan maggot (ulat lalat hitam) dan mendunia.
Tekad Membangun dari Sungai Penuh Sampah
Sundarianto, ketua PEGA, masih ingat bagaimana ia dan kawan-kawannya kecewa saat gagal memancing di sungai. Bukan ikan yang mereka dapatkan, melainkan sampah. Kegelisahan itu mendorong mereka untuk berbuat sesuatu.
“Tujuan sosial kami untuk mengolah sampah. Kalau bukan kita siapa lagi?” kata Sundarianto.
Berkenalan dengan Maggot dan Memulai Petualangan
Pada tahun 2017, Sundarianto terinspirasi dari maggot untuk mengurai sampah organik. Ia belajar secara otodidak dari internet dan memulai budidaya maggot dengan cara sederhana.
“Awalnya kami memancing lalat dari alam dan mengumpulkannya untuk dibudidayakan,” kata Sundarianto.
Pertemuan yang Mengubah Nasib
Tekad dan kegigihan PEGA menarik perhatian PT Bumi Suksesindo (BSI), perusahaan tambang emas di Banyuwangi. BSI terkesan dengan dedikasi PEGA dan tergerak untuk membantu.
“Ini wujud Pasal 33 UU 45 semua kegiatan pertambangan untuk kemaslahatan dan kepentingan masyarakat,” kata Riyadi Effendi, Direktur PT BSI.
Dukungan BSI membuka jalan bagi PEGA untuk berkembang. BSI menyediakan fasilitas, seperti kandang maggot, kendaraan pengangkut sampah, dan akomodasi untuk pelatihan.
“Kami ingin budidaya maggot ini berkembang,” kata Bahtiar Majid dari Community Empowerment PT BSI.
Maggot PEGA: Dari Siliragung ke Australia
Kisah inspiratif PEGA tak berhenti di situ. Pada tahun 2023, PEGA dikontrak oleh pemerintah Norwegia dan lembaga swadaya masyarakat CLOCC untuk menjadi konsultan lokal pengolahan sampah di 14 desa di Banyuwangi.
Tak hanya itu, PEGA diundang untuk melatih pengolahan sampah di Australia pada Mei 2023.
“Kami ingin membantu masyarakat Australia belajar tentang pengolahan sampah dengan maggot,” kata Sundarianto.
Lebih Luas dan Berkelanjutan: BSI Kembangkan Pengolahan Sampah di Pesanggaran
Melihat kesuksesan PEGA, BSI berniat mengembangkan pengolahan sampah organik di Pesanggaran. Bekerja sama dengan desa, BSI dan PEGA akan membangun tempat pengolahan maggot baru untuk mengelola sampah di daerah tersebut.
“Berdasarkan evaluasi, sampah di Pesanggaran juga bagus, karena di pasar dan warung makan banyak sampah,” kata Bahtiar.
Kisah PEGA menunjukkan bahwa komitmen kuat, kerja sama, dan kegigihan dapat mengubah sampah menjadi berkah, bahkan membawa nama Indonesia ke kancah internasional.[rea/aje]







