Jombang (beritajatim.com) – Setiap pagi, sebelum matahari sepenuhnya menyinari langit, seorang pria tua bersepeda menyusuri jalanan sepi di desa. Suara pelan roda sepeda ontel tua yang dia kayuh adalah lagu pengingat bagi siapa saja yang beruntung mendengarnya, bahwa ada seseorang yang berjuang lebih awal, bahkan sebelum dunia terbangun.
Pria itu adalah Sutaji, seorang pedagang kerupuk keliling asal Dusun Budug, Desa Tugusumberjo, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang, yang dengan tekad dan ketekunan telah menjalani rutinitas ini selama lebih dari lima dekade.
Pagi Sutaji dimulai setelah ia melaksanakan salat subuh berjamaah. Selesai berdoa, dengan hati penuh semangat ia menyiapkan dua keranjang besar berisi kerupuk yang siap dijajakan ke warung-warung di sekitar Kecamatan Peterongan hingga Jombang Kota.
Tak ada kendaraan mewah atau etalase yang menghiasi perjalanan dagangannya, hanya sepeda ontel tua dan ketekunan yang menjadi senjata utamanya.
Bermula dari Keinginan yang Sederhana
Cerita Sutaji berawal jauh sebelum ia menikah dengan Siti Hana, perempuan asal Dusun Budug, pada tahun 1983. Saat itu, Sutaji masih lajang dan sudah memulai pekerjaannya sebagai penjual kerupuk keliling.
Sejak usia muda, ia selalu memiliki impian besar—untuk menunaikan ibadah haji. “Sejak menikah, saya sudah berniat. Kalau Allah memberi rezeki, ingin sekali ke Tanah Suci Makkah,” kata Sutaji dengan penuh keyakinan, Senin (2/2/2026).
Namun, impian itu bukanlah hal yang mudah. Tidak ada jalan pintas untuk mencapai tujuan suci tersebut. Harus ada perjuangan yang tak kenal lelah.
Bagi Sutaji, setiap kerupuk yang terjual adalah langkah kecil menuju impian besar tersebut. Setiap pagi, ia berkeliling dengan sepeda yang telah menemani perjuangannya selama bertahun-tahun.
Meski penghasilan awalnya hanya sekitar Rp1.000 per hari pada era 1980-an, Sutaji tetap tekun dan disiplin. Setiap hari, ia menyisihkan sekitar Rp200 untuk menabung, bukan untuk memenuhi keinginan konsumtif, melainkan untuk bekal impian masa depan.
“Yang penting niat dan hidup sederhana. Kebutuhan dipenuhi, sisanya ditabung,” ujarnya dengan penuh kebijaksanaan.
Sepeda Ontel Tua dan Impian yang Tak Pernah Padam

Pada tahun 2012, impian Sutaji dan sang istri mulai terlihat lebih nyata. Siti Hana, istrinya, berhasil mendaftar haji terlebih dahulu. Namun, Sutaji tahu bahwa ia harus menunggu beberapa tahun lagi untuk mengumpulkan cukup dana agar bisa menyusul.
Hingga pada 2019, Sutaji akhirnya berhasil mengumpulkan biaya dan mendaftar haji. Begitu besar tekadnya, ia bahkan menabung dengan sangat cermat, meskipun terkadang penghasilannya tak seberapa. Kini, pada tahun 2026, mereka berdua dijadwalkan berangkat ke Tanah Suci bersama-sama.
Namun, meskipun impian mereka akhirnya terwujud, Sutaji tak pernah merasa perlu membanggakan pencapaian ini kepada orang lain. Bahkan saat diwawancarai, ia lebih memilih untuk menundukkan kepala dan berbicara dengan penuh ketulusan.
“Saya cuma mohon doa dan restu dari teman-teman pedagang,” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca. Bagi Sutaji, perjalanan hidupnya adalah bukti bahwa sebuah impian besar, sekecil apapun, bisa diwujudkan dengan doa, kerja keras, dan ketekunan.
Harapan yang Tak Terhalang Waktu
Kini, setiap hari Sutaji berjualan kerupuk dengan sepenuh hati, mengayuh sepeda ontel tuanya yang penuh kenangan. Meski usianya tidak muda lagi, semangatnya tetap menyala. Ia tahu, hidup sederhana dan tekun adalah kunci kesuksesannya. “Siapa pun yang punya niat baik, semoga Allah SWT memudahkan jalannya,” tutup Sutaji dengan penuh rasa syukur.
Kisah Sutaji seakan memberi pesan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih impian besar. Dengan hati yang tulus, kerja keras, dan doa yang tak pernah padam, segala sesuatu yang diimpikan bisa tercapai.
Sepeda ontel tua yang menjadi saksi perjalanan hidupnya kini bukan hanya alat untuk berdagang, tetapi juga simbol dari impian yang terus berkembang, dan harapan yang tak pernah padam. [suf]






