Gresik (beritajatim.com) – Pasca diluncurkan beberapa hari lalu, program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di Kabupaten Gresik terus menunjukkan perkembangan signifikan. Di bawah koordinasi Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Gresik, daerah ini berambisi menjadikan KDMP sebagai yang terbesar di Jawa Timur.
Ambisi tersebut bukan tanpa dasar. Dari 38 kabupaten/kota di Jawa Timur, baru Gresik dan Ponorogo yang menunjukkan progres konkret. Sementara daerah lainnya masih dalam tahap awal implementasi.
Kepala Diskoperindag Gresik, Darmawan, menyampaikan bahwa dari 356 desa dan kelurahan yang ada, seluruhnya telah menyelenggarakan Musyawarah Desa Khusus (Musdesus) untuk membahas pendirian KDMP.
“Gresik sudah 100 persen, saat ini sudah menyusun berkas notaris pembuat akta koperasi (NPAK),” katanya kepada beritajatim.com, Kamis (15/5/2025).
Meski berkas NPAK telah lengkap, lanjut Darmawan, proses masih menunggu penandatanganan MoU dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, khususnya terkait pembiayaan. Ia menyebut, biaya pembuatan akta koperasi ditanggung APBD sebesar Rp2,5 juta per akta.
Core bisnis KDMP ke depan mencakup tujuh jenis usaha, mulai dari simpan pinjam, apotek, sembako, klinik, cold storage, gerai kantor, serta jenis usaha lainnya sesuai potensi masing-masing desa.
Darmawan memastikan keberadaan KDMP tidak akan bersinggungan negatif dengan koperasi desa atau Badan Usaha Milik Desa (BumDes) yang telah lebih dulu berdiri.
“Kalaupun sudah ada BumDes atau usaha desa lainnya bisa digabungkan dan tidak menjadi persaingan,” paparnya.
Selain mendapatkan bantuan biaya pengurusan NPAK, KDMP juga akan memperoleh suntikan permodalan hingga Rp5 miliar, yang bersumber dari Dana Desa maupun pendanaan melalui Himpunan Bank Negara (Himbara) Bank BUMN.
Melihat besarnya dana yang digelontorkan, Diskoperindag menekankan pentingnya pendampingan sumber daya manusia (SDM) yang akan mengelola KDMP. Setiap SDM diwajibkan memiliki sertifikasi resmi.
“SDM-nya wajib bersertifikasi mengingat anggaran dikucurkan ke KDMP sangat besar,” urainya.
Saat disinggung soal nasib koperasi yang tidak aktif di Gresik, Darmawan mengungkapkan bahwa saat ini terdapat sekitar 1.800 koperasi tidak aktif dari total lebih dari 2.000 koperasi yang terdaftar. Dari ratusan koperasi yang masih aktif, salah satunya adalah KWSG yang bahkan masuk dalam 200 koperasi terbaik di dunia.
Secara terpisah, Sekretaris Asosiasi Kepala Desa (AKD) Gresik, Siswadi, menyatakan dukungannya terhadap program KDMP, asalkan pelaksanaannya benar-benar dikawal dan tidak hanya seremonial.
“Kami mendukung, sebab pemerintah mendirikan ini bukan tiba-tiba berdiri pastinya ada kajian dulu. KDMP ada pastinya buat menggerakkan potensi desa. Soal permodalan usul kalau bisa ditambah melalui DD atau skema bantuan lain,” pungkasnya. [dny/ian]






