Surabaya (beritajatim.com)-Bulan Ramadhan bagi umat muslim seringkali digambarkan sebagai perpaduan antara ketaatan dan perayaan.
Di tengah suasana ibadah yang khusyuk, penggunaan petasan sering muncul
sebagai bagian tak terpisahkan dari tradisi perayaan menyambut bulan ramadhan.
Meskipun banyak yang menganggap petaan sebagai pelengkap kemeriahan, petasan memicu perdebatan karena suara bisingnya yang dianggap sebagai hiburan belaka atau gangguan yang meresahkan.
Suara keras untuk menyambut momen penting memang sudah ada sejak lama, seperti di Kairo yang menggunakan “Meriam Iftar” sebagai tanda waktu berbuka puasa.
Di beberapa budaya lain, bunyi-bunyian seperti itu juga bertujuan untuk mengusir nasib buruk dan menyambut awal yang baru. Tak heran jika sebagian orang setiap tahunnya merasa Ramadhan kurang meriah tanpa suara petasan.
Percikan cahaya yang dihasilkan dari petasan memang indah, namun suara ledakannya yang keras seringkali membuat telinga sakit dan jantung berdebar.
Selain itu, suara keras dari petasan bisa memicu tekanan darah naik yang menyebabkan gangguan kesehatan.
Dampak petasan terhadap lingkungan juga terlihat jelas, asap dari bekas letupan petasan akan menyebabkan polusi yang juga menggangu pernafasan.
Bahaya main petasan ditengah kemeriahan Ramadhan bagi anak-anak juga tidak boleh disepelekan. Petasan pada dasarnya merupakan sebuah bahan peledak dan mudah terbakar, hal itu menimbulkan resiko cedera serius bahkan bisa berujung pada kematian.
Apalagi sekarang banyak beredar petasan yang dibuat dengan bahan racikan sederhana yang kurang terjamin kualitasnya.
Setiap tahunnya, pihak berwenang selalu mendapat laporan tentang seseorang yang mengalami luka bakar, cedera fisik tangan, hingga kebakaran akibat kelalaian saat merakit dan menyalakan petasan.
Resiko tersebut tentu saja tidak hanya berdampak pada pelaku, namun juga berdampak ada lingkungan sekitar, seperti hewan. Seringkali saat terdengar suara petasan yang keras, hewan peliharaan akan stress dan bertingkah tidak terkendali.
Menyambut datangnya bulan Ramadhan tidak harus dengan menyalakan petasan. Kita bisa menghias lingkungan menggunakan lampion dan kerlap kerlip cahaya lainnya agar lebih aman.
Selain memperindah suasana lingkungan, kegiatan ini juga dapat meningkatkan rasa kebersamaan karena menghias lingkungan dilakukan bersama-sama sekaligus bertukar ide dan
kreativitas.
Bulan Ramadhan adalah bulan penuh berkah yang mengajarkan kita untuk menahan diri dan
peduli terhadap sesama. Untuk itu, kita harus memperhatikan segala hal sebelum melakukan
sesuatu agat tidak menganggu kenyamanan orang lain. [Wakhdah Alisa Berliana]






