Malang (beritajatim.com) – Pendapatan sejumlah Coffee Shop di kota Malang selama musim libur mahasiswa mengalami penurunan. Diketahui sejumlah kampus di Malang seperti Universitas Brawijaya, Universitas Negeri Malang, UIN Malang, Unisma, maupun UMM sedang berada pada masa liburan semester genap.
Kondisi libur ini membuat sebagian besar mahasiswa yang merupakan perantau kembali ke kampung masing-masing. Libur semester genap berdampak pada nafas usaha di kota Malang, termasuk usaha Coffee Shop.
Zainullah, Founder Beocca coffee mengaku selama liburan Coffe Shop yang dikelolanya mengalami penurunan. Ia merasa hal serupa juga dirasakan Coffee Shop lain di sekitar wilayah Dau.
“Ya untuk kondisi selama liburan semester dari segi pendapatan pastinya menurun kira² 30-40% karena untuk di Malang pasar f&b lebih banyak pelajar atau mahasiswa,” ucap Inonk, sapannya, kepada beritajatim.com.
Hal serupa disampaikan Faiz Rifqy AK Manajer Ekologie Kafe. Ia merasa omset kafe mengalami penurunan selama beberapa bulan ini karena kondisi liburan semester.
“Kalau ditanya kondisi coffee shop terutama Ekologi beberapa bulan terakhir ini kita menganggap turun, karena ukuran kita kan dari omset. Omset beberapa bulan terakhir ini bisa dikatakan turun kenapa seperti itu memang sebelum sebelumnya kita sudah ada waktu-waktu yang memang kita anggap bukan waktu efektif,” ujar Faiz.
Termasuk bukan waktu efektif, kata Faiz, saat mahasiswa libur panjang pada semester genap. Apalagi menjelang datangnya mahasiswa baru di kota Malang hal itu juga mempengaruhi karena mahasiswa libur panjang otomatis sehingga aktivitasnya banyak yang pulang kampung.

Meski begitu, lanjut Faiz, Kafe Ekologie telah membuat perhitungan bahwa libur semester selama 3 sampai 4 bulan tidak tidak dimasukkan pada omset utama. Secara analisa bisnis asumsi 3 sampai 4 bulan itu menjadi waktu non efektif.
“Jadi selama itu tidak kita anggap sebagai target atau pendapatan utama Ekologi. Cuman kalau garis bawahnya terkait selama teman-teman libur semester mahasiswa ini memang banyak dirasakan ya oleh teman-teman pelaku usaha baik itu pedagang kaki lima ataupun usaha yang sifatnya berkembanglah,” lanjut Faiz.
Dijelaskan Faiz dari sudut pandangnya usaha lain sekelas warung kopi ataupun cafe biasa merasakan hal sama. Namun, ia menganggap hal berbeda jika berbicara Coffee Shop yang sudah skala besar.
“Kalau Coffe Shop yang modal backupnya itu besar, ya biaya selama waktu tertentu itu bisa bisa dari nilai investasi yang sudah dicadangkan. Bisa melalui kegiatan atau backup-an dari tim marketing, ya nafasnya mereka lebih panjang,” kata Faiz.
“Berbeda kalau kayak kita kita pelaku usaha kelasnya masih kaki lima ataupun masjid taraf berkembang karena kita memang putar otaknya di situ gitu sehingga kondisi mahasiswa itu berpengaruh,” tutup pengelola Ekologie Kafe tersebut. (dan/kun)






