Jember (beritajatim.com) – Sebanyak 20 orang yang mewakili 18 kelompok sadar wisata (pokdarwis) mencurahkan isi hati kepada Bupati Hendy Siswanto, di Pendapa Wahyawibawagraha, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Senin (18/9/2023) malam.
Pertemuan itu juga dihadiri sejumlah pejabat Pemkab Jember, antara lain Sekretaris Daerah Hadi Sasmito, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Arief Tjahjono, maupun Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Sartini.
Para pegiat pariwisata itu tak hanya berkeluh kesah, namun juga menceritakan potensi wisata di daerah masing-masing. Potensi-potensi wisata belum digarap maksimal oleh Pemerintah Kabupaten Jember selama ini dan hanya bergantung pada kemandirian warga yang menghadapi sejumlah persoalan.
Jumadi dari Kecamatan Ambulu menjadi pemandu wisata untuk turis dari Eropa ke Pantai Nanggelan sejak 2009. Ia juga menawarkan paket wisata ke Teluk Love dan lokasi wisata lain yang dikerjakan secara mandiri oleh masyarakat, terutama di kawasan pesisir. “Kami mendapat kesan luar biasa dari para turis,” katanya.
Namun warga pegiat wisata pesisir menghadapi kendala penginapan untuk tamu. “Kalau berkunjung 2-3 hari, tamu kami tidur di mana? Kalau tidur di hotel, terlalu jauh jaraknya. Maka kami mengusulkan agar tamu bisa tidur di kampung kami di Dusun Ungkalan, Desa Sabrang, Ambulu,” kata Jumadi.
Melengkapi wisata pantai di Nanggelan, Aminasih dari Desa Curahnongko mengembangkan pasar kuliner nusantara untuk mengangkat pelaku usaha mikro kecil menengah. Mereka juga mulai membuka bukit trembesi bersama Taman Nasional Meru Betiri.
Problem sumber daya manusia menjadi satu di antara sekian problem pengelolaan wisata oleh masyarakat. “Di Desa Mayangan, Kecamatan Gumukmas, ada Pantai Macema yakni Pantai Mangrove Cemara Mayangan. Namun kami belum bisa memaksimalkan potensi karena keterbatasan anggaran dan kemampuan sumber daya manusia,” kata Baiman, pengelola wisata di sana.
Bujiati, anggota kelompok pengelola Kampung purba, meminta Pemkab Jember mau mendampingi pelatihan pemandu wisata budaya. “Kami saatini mempersiapkan event jelajah Kampung Purba,” katanya.
Suto, pengelola lokasi wisata Teluk Love, mendesak Pemerintah Kabupaten Jember untuk melatih para juru parkir yang beroperasi di kawasan persisir. “Perlu ada pelatihan sumber daya manusia juru parkir agar sapta pesona wisata terwujud,” katanya. Selama ini banyak keluhan dari pengunjung Teluk Love yang merasa diperlakukan tak sopan oleh juru parkir setempat.
Lebih jauh, Suto meminta kepastian legalitas usahanya menggarap Teluk Love. “Saya tidak mau dianggap memperkaya diri. Saya siap berbagi keuntungan dengan Pemkab Jember. Teluk Love dulu jadi tempat sampah. Sekarang jadi mutiara dan bagian dari segitiga emas pariwisata pantai Jember, yakni Papuma, Watu Ulo, Teluk Love,” katanya.
Komunitas angkutan wisata siap mengantarkan para tamu wisatawan ke sejumlah lokasi wisata di Jember. “Jika kawan-kawan (mengelola lokasi wisata) surganya, kami adalah (kendaraan) buroq-nya,” kata Heri Busyari, sopir angkutan wisata Sultan.
Selama ini, sudah ada ribuan wisatawan yang memakai jasa angkutan wisata Sultan. “Namun kami baru punya delapan unit angkutan. Kami serimg terkendala ketika ada trip bersamaan. Sekali jalan dibutuhkan sampai 20 unit kendaraan. Kami ingin dibantu brandimg,” kata Heri.
Menanggapi itu, Hendy meminta kepada seluruh pelaku pariwisata tersebut untuk segera membuat rincian data persoalan dan kebutuhan masing-masing. Data itu nantinya akan diteruskan kepada organisasi perangkat daerah yang berwenang mengatasi persoalan.
Hendy mengingatkan bahwa pembangunan pariwisata bukan hanya dimonopoli Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. Namun juga melibatkan organisasi perangkat daerah lainnya yang relevan. [wir]






