Surabaya (beritajatim.com)- Generasi Z (lahir kira-kira antara tahun 1997-2012) seringkali punya kebiasaan yang tampak aneh atau sulit dipahami oleh generasi sebelumnya. Tapi di balik itu, ada alasan psikologis sosial, dan digital yang masuk akal. Berikut lima kebiasaan unik itu.
1. Cepat lupa barang yang baru saja dipegang
Terkadang Gen Z sering lupa menaruh dompet, kunci, bahkan ponsel yang padahal baru dipegang selama beberapa menit lalu. Alasannya karena multitasking yang tinggi, kecepatan berpindah antar aplikasi/gadget, dan overload informasi dapat membuat daya ingat jangka pendek menjadi kosong sesaat.
2. Mengetik penuh typo dan auto-correct
Gen Z sering menulis pesan secara cepat, kadang juga langsung kirim tanpa dicek ulang, bahkan juga mengandalkan auto-correct atau emoji untuk memperbaiki makna. Alasannya karena kecepatan komunikasi menjadi prioritas, bukan kesempurnaan tulisan. Pesan yang dikirim cepat berharap akan mendapat respons yang cepat juga.
3. Rebahan tanpa rencana bangun
Rebahan seperti tiduran santai atau bersantai tanpa produktivitas kadang berubah menjadi kebiasaan. Alasannya bisa terjadi karena kelelahan digital, burnout, atau kebutuhan mental yang terkadang memicu modus rebahan sebagai cara me-restart pikiran.
4. Oversharing dan kehidupan pribadi di media social
Gen Z cenderung membagikan pikiran, perasaan, dan detail kehidupan pribadi di media sosial, kadang juga sampai lebih dari yang generasi sebelumnya anggap wajar. Alasannya adalah karena mereka tumbuh dalam era media sosial, membangun identitas lewat share, mencari koneksi, dan mencari dukungan lewat komunitas digital.
5. Pola konsumsi konten ekstrem dan konsumsi cepat
Gen Z sering scroll terus di media sosial, mulai dari video singkat, konten meme, hingga tren baru dalam hitungan jam. Kebiasaan ini bisa dianggap aneh oleh mereka yang tidak tumbuh di ekosistem cepat itu.
Media menyebut bahwa ketergantungan teknologi dan konsumsi media sosial sangat tinggi di generasi ini. Alasannya karena algoritma media sosial memicu konten baru terus-menerus, FOMO (Fear of Missing Out), dan keinginan untuk tetap update dengan tren.
Meskipun kebiasaan tersebut bisa tampak aneh dari sudut pandang generasi lain, tapi banyak dari kebiasaan itu adalah adaptasi terhadap dunia digital, tekanan sosial, dan kebutuhan mental. [Rizka Novia Rahmadana]






