Surabaya (beritajatim.com) – Dalam hal profesionalisme kerja, soft skill dapat memengaruhi kinerja pekerjaan secara keseluruhan.
Seperti halnya pemikiran kritis yang membutuhkan keseimbangan untuk tetap berpikiran terbuka. Kemudian mencari solusi baru sambil menguasai praktik terbaik yang sudah mapan terlebih dahulu.
Namun sayangnya ternyata banyak karyawan yang memiliki keterampilan teknis terbaik justru tidak memiliki soft skill yang mumpuni.
Kabar baiknya, soft skill dapat dikuasai dengan latihan, seperti keterampilan lainnya.
Di dunia kerja sekarang semakin sulit untuk menonjol hanya berdasarkan keahlian teknis. Lalu Soft skill apa yang sebaiknya mulai dipelajari?
Ada banyak soft skill yang bisa kita latih dan dibutuhkan oleh perusahaan. Namun tiga soft skill berikut ini yang menempati syarat utama bagi pekerja.
1. Profesionalisme
Profesionalisme merupakan jenis soft skill yang paling abstrak, dan penerapannya bergantung pada konteks pekerjaan. Arti profesionalisme dalam satu organisasi bisa sangat berbeda dengan arti profesionalisme di organisasi lain.
Secara umum, yang dimaksud sebagian besar HR ketika mengatakan bahwa mereka mencari karyawan yang profesional adalah seseorang yang memahami bagaimana mereka sebagai individu memengaruhi pekerjaan secara keseluruhan di perusahaan atau organisasi tersebut.
Itu bisa berarti apa saja mulai dari kinerja pribadi atau bagaimana perilaku seseorang memengaruhi atmosfir tim.
Dasar-dasar Tindakan Profesionalisme yang Dapat Dilatih
– Evaluasi diri: Secara teratur menilai pikiran, kata-kata, dan tindakan seseorang atau diri sendiri terhadap standar yang jelas; dan kinerja seseorang terhadap tujuan, date line, pedoman, dan parameter tertentu.
– Tanggung jawab pribadi: Tetap fokus pada apa yang dapat dikendalikan secara langsung, terutama diri sendiri dan mengendalikan respons dalam menghadapi faktor-faktor di luar kendalinya sendiri.
– Sikap positif: Mempertahankan dan menyampaikan sikap positif, murah hati, antusias dalam ekspresi, gerak tubuh, kata-kata, dan nada bicara.
– Kebiasaan kerja yang baik: Kesehatan, presentasi diri, ketepatan waktu, organisasi, produktivitas, kualitas, tindak lanjut, dan inisiatif.
– Komunikasi interpersonal: Mendaftar dengan penuh perhatian, mengamati, dan membaca; memahami dan berempati; penggunaan kata, nada, ekspresi, dan gerak tubuh yang efektif, baik itu verbal, tertulis, dan lainnya; baik dalam kerja mandiri dan dalam kelompok; secara langsung dan jarak jauh.
2. Pemikiran Kritis
Banyak orang jatuh ke dalam perangkap percaya bahwa pekerjaan mereka tidak memerlukan pemikiran kritis. Padahal apa pun pekerjaannya tetap membutuhkan bagaimana cara berpikir tentang apa yang dikerjakan.
Pemikiran kritis memerlukan keseimbangan antara tetap berpikiran terbuka dan mencari solusi baru sambil menguasai praktik terbaik dalam melakukan pekerjaan.
Dasar-dasar Pemikiran Kritis yang Dapat Dilatih
– Pembelajaran proaktif: Tetap berpikiran terbuka, menangguhkan penilaian, mempertanyakan asumsi, dan mencari informasi, teknik, dan perspektif; dan belajar, berlatih, dan berusaha membangun basis pengetahuan, keahlian, dan kebijaksanaan.
– Pemecahan masalah: Menguasai praktik terbaik dalam pekerjaan untuk menghindari terciptanya masalah. Menggunakan solusi yang efektif untuk berimprovisasi saat menangani keputusan yang baru maupun serupa.
– Pengambilan keputusan: Mengidentifikasi dan mempertimbangkan beberapa opsi, menilai pro dan kontra dari masing-masing opsi, dan memilih tindakan yang paling dekat dengan hasil yang diinginkan.
[berita-terkait number=”5″ tag=”tips”]
3. Kerja Tim
Semua lingkungan kerja saat ini berhubungan dengan kolaborasi atau kerjasama. Kerja tim adalah keterampilan penting dalam setiap peran di organisasi mana pun.
Faktanya, menguasai dasar-dasar kerja sama tim adalah salah satu cara terbaik untuk pengembangan diri.
Nilai-nilai Kerjasama Tim yang Dapat Dilatih
– Menghargai konteks: Membaca dan beradaptasi dengan struktur, aturan, kebiasaan, dan kepemimpinan yang ada dalam situasi yang tidak biasa.
– Tugas dasar anggota: Menerima, merangkul, dan mengamati, bukan hanya hak dan penghargaan, tapi juga tugas keanggotaan/kepemilikan/partisipasi dalam kelompok tertentu dengan struktur, aturan, kebiasaan, dan kepemimpinannya sendiri.
– Layanan: Memiliki rasa hormat, komitmen, kerja keras, kreativitas, dan pengorbanan.
– Memainkan posisi: Melakukan bagian yang ditugaskan dengan baik agar tercapai misi yang lebih besar; berkoordinasi, bekerja sama, dan berkolaborasi dengan orang lain dalam mengejar tujuan bersama; mendukung dan merayakan keberhasilan rekan kerja. (Kai/ian)






