Pacitan (beritajatim.com) – Cuaca ekstrem yang melanda Kabupaten Pacitan dalam beberapa bulan terakhir berdampak serius terhadap musim tanam tembakau. Banyak petani terpaksa menanam ulang bibit hingga tiga kali karena lahan tergenang air dan tanaman rusak.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Pacitan, Sugeng Santoso, menyebutkan bahwa hingga akhir Juni 2025, luas tanam tembakau baru mencapai 233 hektare. Padahal, target tanam tahun ini sebesar 503 hektare.
“Curah hujan yang tinggi menyebabkan sebagian besar areal tanam tergenang. Petani bahkan harus menanam ulang hingga tiga kali,” ungkap Sugeng, Selasa (1/7/2025).
Ia menjelaskan, solusi sementara yang dilakukan adalah menunggu lahan benar-benar kering sebelum dilakukan penyulaman atau penanaman ulang. Selain itu, sebagian petani memilih berpindah ke lahan dataran tinggi yang lebih aman dari genangan.
Pacitan sendiri memiliki potensi areal tanam tembakau mencapai 4.000 hektare. Namun, cuaca yang tidak menentu menjadi tantangan serius dalam optimalisasi potensi tersebut.
Dari sisi harga, tembakau rajangan saat ini dihargai antara Rp 20.000 hingga Rp 52.000 per kilogram. Sementara tembakau daun basah berada di kisaran Rp 2.500 per kilogram.
Terkait kemitraan, para petani tembakau di Pacitan selama ini menjalin kerja sama dengan sejumlah perusahaan. Untuk jenis tembakau virginia, kemitraan dilakukan bersama PT SADANA di Ponorogo, sedangkan untuk jenis grompol bermitra dengan PT AOI di Klaten. Meski demikian, sebagian petani tetap memilih menjual hasil panen secara mandiri. (tri/ted)






