Surabaya (beritajatim.com) – Beberapa tahun belakangan kata toxic memang ramai dibicarakan. Istilah ini kerap dikaitkan dengan sebuah hubungan, mulai dari pertemanan, percintaan, bahkan bisa juga dalam lingkup keluarga. Intinya, istilah ini mengacu pada seseorang yang memberikan dampak buruk bagi orang lain.
Mungkin kamu pernah atau bahkan sering menganggap orang lain toxic. Terlebih karena tidak sejalan dengan pemikiranmu selama ini. Jadi, apapun yang dikatakan atau dilakukan orang tersebut, kamu anggap sebagai hal yang buruk dan dapat menjatuhkan mentalmu. Sehingga kamu pun berusaha untuk menjauhinya.
Namun coba introspeksi terlebih dahulu, bisa jadi sebenarnya kamu sendiri yang toxic. Mungkin saja ada beberapa masalah yang sebenarnya ada dalam dirimu, seperti;
Masalah sebuah kompetisi
Saat teman, saudara, atau pasanganmu sedang bercerita perihal permasalahannya, alih-alih menjadi pendengar atau mencarikan solusi. Kamu justru meremehkan permasalahannya, hanya karena kamu pernah mengalami hal yang lebih buruk atau berat dari itu.
Bercanda di waktu yang tidak tepat
Sedekat apapun kamu dengan seseorang, bukan berarti membenarkan bahwa candaan bisa dilakukan setiap saat. Kamu juga harus memperhatikan waktu dan kondisinya. Kamu dianggap toxic jika kamu kerap tidak bisa membedakan mana waktu sedang bersedih, serius, dengan waktu bercanda.
Membantu yang tidak pada tempatnya
Pada dasarnya membantu memang sesuatu perbuatan yang positif. Namun, hal itu bisa berubah menjadi buruk saat kamu tidak melewati privasi orang lain. Terlebih tanpa izin siempunya. Setidaknya lihatlah terlebih dahulu, apa orang tersebut memang berkenan untuk dibantu atau tidak.
Berkonflik untuk mencari perhatian
Berkonflik untuk mencari perhatian mungkin pernah dilakukan seseorang. Namun, konflik yang sehat, biasanya bertujuan untuk kebaikan bersama. Namun, jika kamu kerap mencari masalah hanya untuk mencari perhatian seseorang, itu yang tidak sehat. Maka sebaiknya hentikan.
Pasif agresif
Tanda kamu orang toxic juga bisa dilihat ketika seseorang bertanya padamu. Misalnya, ditanya setuju atau tidak, kamu kerap menjawab tidak. Namun, saat ditanya bagaimana? Kamu sendiri tidak tahu.
Kamu juga mungkin tak turut memberikan kontribusi, saran, dan kritik. Namun, saat orang lain memutuskan sesuatu, kamu justru cenderung memperlihatkan bahwa dirimu tidak menyukainya. (Fyi/ian)






