Surabaya (beritajatim.com) – Cloud coffee tengah naik daun di media sosial. Dengan tampilan berlapis dan busa lembut menyerupai awan, minuman ini disukai banyak orang.
Terutama karena diklaim sebagai versi kopi yang lebih sehat. Tapi, apakah klaim tersebut benar adanya?
Minuman ini umumnya terdiri dari kopi hitam, susu rendah lemak atau nabati, dan busa lembut dari putih telur atau susu yang dikocok.
Beberapa varian menambahkan madu, kolagen, atau kayu manis sebagai pemanis alami dan nilai tambah gizi.
Karena rendah kalori dan tanpa tambahan krim atau sirup, cloud coffee sering disebut lebih “sehat” dibandingkan kopi kekinian lainnya.
Namun, para ahli menekankan bahwa label “sehat” tak bisa diberikan begitu saja. Kandungan gizi tetap bergantung pada bahan yang digunakan.
Penggunaan putih telur mentah misalnya, bisa berisiko membawa bakteri jika tidak melalui proses pasteurisasi. Tambahan seperti sirup atau krimer beraroma juga tetap meningkatkan kadar gula dan lemak, meski dalam jumlah kecil.
Sementara untuk kolagen yang sering ditambahkan belum terbukti secara ilmiah memiliki manfaat langsung jika dikonsumsi lewat kopi.
Kesimpulannya, cloud coffee bisa menjadi alternatif minuman yang lebih ringan asal dibuat dari bahan-bahan alami dan tanpa tambahan gula berlebih. Namun menyebutnya “sehat” secara umum masih perlu ditinjau secara kritis.
Jadi, sebelum terbawa tren, ada baiknya tetap memperhatikan komposisi dan kebutuhan gizi pribadi. Cloud coffee boleh saja dicoba, tapi jangan langsung percaya semua klaim. [aje]






